Dex Story

“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis” - Imam Al-Ghazali -

Friendsternya Ade Sanusi

Review Anime “Violet Evergarden, Boneka Kenangan Otomatis”, Kisah Gadis Mantan Tentara Elit Menjadi Penulis

 DexREVIEW: Review Anime “Violet Evergarden, Boneka Kenangan Otomatis”, Kisah Gadis Mantan Tentara Elit Menjadi Penulis


Source: netflix.com


PERSONAL RATE: 9/10


Ketika salah satu teman saya merekomendasikan anime berjudul Violet Evergarden ini, saya tidak berekspektasi lebih, baik dari segi cerita atau pun grafiknya. Apalagi anime ini menyuguhkan anime bergenre Slice of Life dan pokok ceritanya bercerita tentang perjalan hidup hidup seorang penulis wanita yang penuh dengan drama (digambarkan dengan halus dan sangat emotional).


Ada beberapa alasan kenapa saya memutuskan untuk menonton anime yang diangkat dari seri novel ditulis oleh Akatsuki dan diilutrasikan oleh Akiko Takase ini. Pertama, saya memang penggemar anime bergenre Slice of Life (my top 3 slice of life anime: Natsume Yuujinchou, K-ON, dan Barakamon). Kedua, banyak gambar-gambar Violet Evergarden di Instagram dan menurut saya sangat manis sekali. Dan terakhir, saat itu sedang tidak ada anime yang saya tonton dan menutuskan untuk menonton anime yang terdiri dari 13 episode pada season pertamanya.


Haru dan manis merupakan 2 kata yang cocok untuk menggambarkan alur cerita Violet Evergarden. Setiap episode memiliki intrinsik cerita yang berbeda, tetapi memiliki kesamaan dalam hal pengembangan karakter tokoh utamanya. Sedari awal episode kita sudah disuguhkan oleh sosok Violet Evergarden yang kuat dalam menjalani kehidupan dan terkesan berhati dingin dalam berinteraksi dengan sekitarnya. Kalau ingin menemukan canda tawa dan humor yang menggelitik, anime ini sangat tidak dianjurkan. Karena emosi kita dibangun sedari awal, sekedar mencapai haru dan sedikit senyum simpul diujung episode. Repetisi plot seperti ini terus berlanjut sampai episode akhir, tapi dengan cerita yang lebih intens.


Alur ceritanya memang terkesan pelan (memang lambat) dan menurut saya pribadi memang seperti itu daya tarik anime bergenre Slice of Life teristimewa Violet Evergarden ini. Hati-hati dengan senyuman Violet, karena sangat banyak scenes dimana senyuman itu menjadi penyegar diantara ironi setiap karakter per episodenya. Meskipun banyak karakter-karakter baru setiap episodenya dan kemudian tidak akan muncul lagi di episode berikutnya, tapi kita sebagai penonton akan sangat hafal dengan raut wajah beserta sosok karakter sekali-tayang tersebut. Penderitaan yang diramu dengan epik oleh Kyoto Animation sehingga menghasilkan grafik memukau, sehingga kesedihan bisa dikonsumsi sebagai hiburan yang memberikan pelajaran tentang hidup barangkali.


Ada beberapa scene yang membuat saya menangis sesegukan. Bagaimana saya bisa menangis ketika yang dikonsumsi sebatas ilustrasi? Begitu powerful-nya emosi yang dihasilkan oleh anime ini. Seingat saya, ada 2 episode yang sangat menguras air mata saya dan terngiang-ngiang selama beberapa hari. Alhasil, saya rewatch lagi animenya dan masih saja mendapatkan emosi yang sama.


Selamat menonton.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar