PART 3: PAGUYUBAN
PENJURU ALAM
Di
Nusantara terdapat empat suku terbesar yang mendiami daerah perlindungannya
masing-masing. Daerah Bagian Timur dilindungi oleh Suku Korowai. Daerah Sulawesi
dikuasai oleh Suku Kajang. Daerah Kalimantan dilindungi oleh Suku Dayak. Dan
yang terakhir adalah Sumatera dilindungi oleh Suku Kubu. Keempat suku ini disebut Penjuru
Alam.
Tentunya
setiap suku memiliki beberapa anak-anak suku yang mereka pimpin untuk
melindungan kelangsungan hidup suku mereka sekaligus melindungi manusia-manusia
yang hidup di atasnya. Terkadang manusia itu sendiri tidak peka akan segala
sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Ada sesuatu yang manusia injak agar manusia
tetap berada dijalurnya. Sesuatu itu terkadang tidak berniat untuk menampakkan
sosoknya dan berpura-pura menjadi Tuhan agar manusia menyembahnya.
Keempat
suku merupakan penjaga keseimbangan alam di bumi nusantara. Mereka bisa hidup
di dunia astral dan dunia manusia. Sebagian besar, mereka menghabiskan waktunya
di dunia astral. Sehingga menusia jarang menjamah dan menemukan suku-suku
pedalaman ini.
Saat
di dunia manusia, penampilan dan perawakan mereka tampak menyedihkan dan jauh
dari kesan bangsa yang berperadaban. Terkadang tampak seperti bangsa yang tidak
mengenal teknologi dan pengetahuan, menimbulkan kesan sebagai bangsa primitif.
Tapi saat di dunia astral, kehidupan suku Penjuru
Alam, memiliki peradaban yang sangat maju dengan kondisi alam yang sangat
asri.
Pohon-pohon
yang tumbuh disana tidaklah dengan ukuran yang kecil. Melainkan ukuran dan
jumlah yang sangat besar. Sejauh mata memanndang hanya terlihat pepohonan hijau
dengan jenis dan bentuk pohon yang terlihat asing dipandang mata. Dari setiap
dahan tumbuh berbagai buah dengan aroma yang menggugah selera. Bahkan tumbuhan
dan pepohonan yang hampir punah dan sudah punah di dunia manusia, tumbuh subur
di dunia astral. Seperti Balam Suntai, Bayur, pohon Ulin, Cendana, Damar,
Mimba, sampai bunga Raflesia Arnoldi yang tumbuh subur disepanjang jalan. Sudah
tak asing lagi bagi penduduk dunia astral tentang tumbuhan dan pohon-pohon itu.
Rumah-rumah
penduduk terbuat dari pohon Tembesu. Tapi pohon tembesu dengan ukuran sebesar
truk yang dipahat dan diukir sampai dapat ditempati. Jika ditanya tentang
kenyamanan dan keindahan bentuk rumah, tentu melebihi rumah-rumah yang ada di
dunia manusia. Rumah itu tampak sederhana dari luar dengan berbentuk seperti
gelondong kayu Tembesu dengan kulit kasarnya. Tapi memiliki pahatan yang sangat
antik dibagian dalamnya. Semuanya dibuat secara bergotong royong. Baik dengan
tenaga maupun kekuatan yang dimiliki oleh masing penduduk. Begitulah penduduk
dunia astral membentuk tempat tinggalnya.
Penduduk
suku astral dalam kesehariannya mengenakan Anggerka.
Baju dalam yg panjang dan berkancing. Baik laki-laki maupun perempuan,
semua kalangan mengenakan baju Anggerka tapi dengan sedikit modifikasi pada
pakaian perempuannya. Tampak rapi dengan juntaian kain yang panjang dan
pernak-pernak yang tampak sangat cocok dan terkesan tidak berlebihan. Apalagi,
perempuan disana mengenakan selendang panjang untuk menutupi bagian kepalanya.
Hal
yang lebih istimewa adalah keberadaan penduduk dunia astral. Mereka akan tampak
seperti bangsa yang berperdaban tinggi di dunia astral, tapi dunia manusia
malah sebaliknya. Tampang mereka tampak kumuh tak terurus dan mencerminkan
bangsa yang tertinggal. Tapi, semua itu tak menjadi perhatian di dunia manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar