Dex Story

“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis” - Imam Al-Ghazali -

Friendsternya Ade Sanusi

Cerbung You Cannot See What I Can See, Part 1: Kehilangan

cerbung you cannot see what i can see


Part 1: Kehilangan

                Sekali lagi dia terbangun. Di dunia yang setiap harinya ia kutuk. Tidak pernah dapat menemukan kenikmatan yang tersimpan di dunia yang sudah sara ini. Kenikmatan yang setiap harinya dinikmati oleh orang-orang disekitar pria itu. Sekalipun, pria itu tak pernah menemukan kenikmatan yang orang lain rasa. Kecuali saat ibunya memberikan hadiah ulang tahun berupa sepeda bekas yang ibunya tabung selama tiga bulan. Selain itu, tak pernah.

Tempat yang dipenuhi oleh orang-orang dengan kebaikan yang tersimpan disetiap tarikan nafas yang mereka lakukan. Orang-orang suci yang selalu bertengger dan mengotak-atik sabda yang sudah diturunkan oleh pendahulunya. “Tidakkah semua itu membuat mereka jenuh dengan kebohongan yang tersamar didunia ini?” Itulah yang dipikirkan oleh pria itu.

***

Pagi itu, Natan terbangun lebih awal. Tidak ada yang istimewa dari kejadian ini. Selain pagi yang menyemburkan kedinginan dan kesengsaraan bagi para petani yang memulai kegiatan di bumi yang tidak bisa mereka jaga. Bahkan pegawai-pegawai swasta tak kalah bersemangatnya dikala pagi itu. Berbagai laporan yang harus mereka selesaikan meskipun langit runtuh dan menimpa majikan-majikan mereka yang duduk melipat kaki sambil sesekali menggoyangkannya.

Rumah Natan yang berdiri kokoh di perbukitan hijau pucat sangat banyak ditumbuhi oleh berbagai jenis pohon. Rumah itu dikelilingi oleh tanaman kelor yang dengan entengnya bertengger disetiap sudut rumah. Tapi yang paling banyak tumbuh adalah pohon-pohon Akasia. Dedaunan kering yang menunggu waktu untuk gugur dari rantingnya, sudah tak dapat ditemukan. Selain daun-daun muda nan segar yang menghiasi pohon-pohon Akasia di depan jendela kamar Natan. Dahan-dahannya begitu lebat dan tampak menyeramkan disaat malam menampikkan cahaya dan meninggalkan kegelapan dan kenistaan. Tapi, sekalipun tak pernah ia memandang pohon Akasia itu.

Yang paling istimewa dari tempat tinggalnya adalah sebuah gunung yang berdiri dengan kokohnya sejauh mata memandang. Ya, gunung Singgalang, begitu orang-orang menyebutnya dengan berbagai kisah yang menyelimutinya. Mulai dari misteri Telaga Dewi, suara Talempong ditengah malam, ada naga yang tinggal disana dan bersiap menghisap setiap manusia yang ada di atasnya, sampai pada sebuah cerita tentang makhluk yang hidup di dimensi lain.

Saat memandang gunung Singalang, mata akan dengan sangat mudah menemukan berbagai jenis pohon. Mulai dati pohon gaharu dengan keharumannya, kapur barus dengan serba gunanya, cendana dengan harga tingginya, kayu manis dengan “kemanisannya”, sampai dengan jelatung dengan kehampaannya

Dari perbukitan tempat tinggalnya, tentu Natan dengan sangat mudah dapat memandang gunung Singgalang. Tapi, rumahnya yang terpencil dan tidak banyak dikunjungi oleh saudara-saudaranya, membuat Natan berdamai dengan keheningan dan kesendirian. Kesendiriannya membuatnya betah untuk berdiam diri di kamar dan memandang hutan asri yang kini sudah mulai dibabat oleh orang-orang seberang sana.

Tapi, apapun yang terjadi di dunia ini, tak membuat Natan bergidik untuk beranjak dari katil kayu yang sudah semalaman dia tiduri.

“Aku terbangun lagi!” dengusannya terdengar parau sebagai tanda kehidupan orang yang tidak pernah menginginkan perubahan atau bahkan tidak pernah mengubah hidupnya. Perubahan bukan sesuatu yang akrab baginya. Apalagi, sesuatu yang penting untuk dipikirkan siang dan malam hingga mebuat rambut-rambutnya berubah menjadi berwarna putih satu-satu. “Mungkinkah perubahan itu sendiri yang takut untuk merubahku?”

Setelah beberapa saat menerawang akan kegiatan yang dia lakukan hari ini, Natan mulai beranjak dari tempat tidurnya. Kakinya terasa dingin saat menginjak lantai rumah yang selalu menuntunnya kearah yang dia sendiri tidak tahu. Apakah langkah kakinya akan membawanya ke surga yang selalu orang-orang suci dambakan? Ataukah menuju ke neraka yang tidak pernah terpikir oleh para manusia sebelumnya. Bayangan yang membuat setiap manusia ingin untuk melupakan segala kenangan buruk dan berharap hanya ada kebahagiaan yang mengungkung mereka.

Saat kaki Natan baru melangkah beberapa langkah keluar kamar tidurnya, tiba-tiba kilatan masa muncul di hadapannya.

Kulihat, Ibu menjinjing sekantong daging di tengah jalan. Dengan baju putih lengan panjang dan kerudung sutra berwarna putih yang selalu ia kenakan setiap harinya. Tiba-tiba di perempatan jalan, ada sebuah mobil yang menabrak Ibu. Darah bergelinang disana dan matanya tak terbuka lagi.

Badannya terasa lemas seketika. Hampir saja tubuhnya jatuh ke lantai dalam keadaan tubuhnya yang terasa lunglai. Dadanya terasa sesak seketika akan apa yang terlintas dalam pikirannya. Dadanya naik turun dan terlihat sulit mengatur nafas. Ditambah dengan keringat yang membasahi tengkuknya.

“Mungkin itu hanya De Javu!” bisiknya dalam hati.

Dia tahu itu hanya alasan untuk menenangkan hatinya yang gelisah akan kilatan masa yang telah dia lihat. Dan ini merupakan kilatan masa kali ketiga yang sudah dia lihat sejak seminggu yang lalu.

Natan kembali  melanjutkan langkahnya dalam pikiran yang terus terisi oleh kegelisahan tentang hal-hal yang tidak dia mengerti. Apakah dia harus percaya terhadap mimpi sesaat itu atau mengkhawatirkan Ibu yang selama ini bersamanya, pergi?

Seperti biasa, sapaan hangat selalu menyambutnya setiap kali bangun tidur. Ya, sapaan hangat dari Ibu. Saat Natan keluar dari kamarnya, sapaan hangat itu langsung hadir.

“Rotinya sudah ibu siapkan. Kalau susu, ambil sendiri ya, Natan!” sapa Ibu. Hari ini Ibu menegakan pakaian yang sangat serasi sekali dengan perawakannya yang ayu. Baju serba putih yang buat panjang lengan. Sangat elok untuk menyembunyikan tangan halus dan lembut yang selalu merangkul Natan dalam tumbuhnya. Meskipun ia kini sudah remaja, tangan itu masih saja merangkul pundaknya yang kokoh.

“Ya, bu,” jawabnya singkat. Karena dia tahu, ibu selalu menyayanginya meskipun ia anak yang pendiam dan tidak pernah memberi kebanggaan untuknya.

“Hari ini Ibu mau ke pasar. Ibu akan membuat rendang kesukaan kamu,” katanya setengah berbisik.

Natan memberikan sedikit anggukan saat mengambil susu dari dalam kulkas. Karena ia tahu bahwa Ibunya akan membuatkan makanan kesukaannya. Makanan yang selalu membuatnya bangga akan asalnya, Minangkabau. Rendang yang sudah membanggakan nama Indonesia di kancah dunia hanya dengan makanan sederhana dari tanah yang memiliki adat yang sangat apik. Minangkabau.

Bahkan pernah suatu ketika, Natan hanya mau memakan rendang saat berkunjung kerumah Mamak-nya. Alhasil, berat badannya bertambah. Tentu saja, ini hal biasa bagi Natan, tapi tidak bagi Ibunya. Ibunya takut kalau anaknya akan obesitas dan sakit. Ibu yang berlebihan.

Tapi, itulah yang membuat Natan senang akan Ibunya. Perhatian yang tidak dia dapatkan dari siapapun di dunia ini. Bahkan dari Ayahnya sendiri yang sudah meninggalkannya sejak umur dua tahun. Bahkan bayangan tentang ayahnya kini sudah luntur oleh tinta-tinta biru dalam masa-masa yang membuatnya tumbuh. Kasih sayang ibulah yang mengisi ceruk ditengah ngarai itu hingga membuatnya tak membutuhkan cinta dari Ayah. Karena sesosok wanita tegar nan ringkih akan selalu setia menatapnya dan memperhatikan setiap langkahnya menuju kedewasaan.

Roti yang dibuatkan oleh Ibu, kini tinggal setengah. Natan mengunyahnya secara perlahan untuk merasakan setiap lapis roti yang sudah dibuatkan oleh Ibu. Secangkir susu sudah bertengger di sampingnya yang sudah dia ambil dari dalam kulkas. Kini susu dingin tersebut sudah ia campurkan dengan air panas. Berharap darinya tumbuh semangat yang membuat ia bisa merasakan dunia dengan lebih baik. Hawa dingin dari susu dan panasnya air hangat yang ia campurkan, mengelarkan aroma sedap. Digenggamnya secangkir susu tersebut yang mengepulkan asap yang beraroma dan meminumnya perlahan.

Natan terperanjak dari tempat duduknya. Matanya terbelalak seakan matahari sudah tidak terbit di sela-sela gunung Singgalang. Sadar akan sesuatu yang dia sendiri tidak tahu akan kebenarannya. Segera ia meletakkan susu yang tengah dia minum dan langsung keluar rumah. Setibanya diluar rumah, ia layangkan pandangan untuk mencari sosok Ibu yang tengah ia khawatirkan. Entah apa yang membuatnya khawatir.

Kepanikan membuat ia tidak tahu harus ke arah  mana mencari ibunya. Tak pernah ia memperhatikan arah yang biasa dituju oleh Ibu sebelumnya. Tanpa pikir panjang, Natan langsung menuruni jalan lurus di depan rumahnya.

Kediamannya yang terletak di atas bukit nan terjal, menampakkan satu-satunya jalan menuju kawasan perumahan yang berada di kaki bukit. Jalan aspal dengan penurunan tajam dan berkelok-kelok tak membuat Natan memperlambat larinya. Kekhawatiran akan sesuatu yang baru ia sadari, membuat semua jalan itu tampak mudah untuk dilalui. Hingga ia sampai di kaki bukit dengan banyak orang yang berlalu lalang. Natan langsung berlari ke arah jalan kiri. Karena ia melihat banyak orang yang bejalan kearah sana.

Dia berlari sekencang yang dia bisa. Sudah lama Natan tidak berlari sekencang ini dan mengkhawatirkan sesuatu. Suara hatinya bergejolak tentang apa yang akan terjadi dan menimpa Ibunya saat menyusiri gang-gang kecil yang belum pernah ia telusuri sebelumnya. Gambar-gambar di gang itu tampak sendu saat Natan memandangnya dan terus menjaga agar kakinya tetap berlari. Disana terdapat rumah-rumah yang dibuat sekedarnya. Rumah-rumah yang tidak layak huni dan terbuat dari kayu-kayu bekas. Disana-sini banyak orang-orang kumuh berlalu lalang dan anak-anak mereka yang bertelanjang dada menantang matahari. Ada juga dari mereka yang berjualan makanan dan sembako.

Semua pemandangan itu, tak membuat Natan mengalihkan perhatiannya. Tak pernah ia berhenti sedetikpun walau hanya untuk mengatur nafas, meskipun ia tersengal-sengal saat berlari.

Kini Natan sudah keluar dari gang-gang kecil tempat ia berlari dari tadi.

Dia bertemu pertigaan. Tapi kali ini agak lengang dari blok sebelumnya. Tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang. Kecuali beberapa dedaunan yang berserakan menutupi jalanan beraspal. Sunyi, menyesakkan dada Natan yang mulai membuatnya tersengal-sengal setelah jauh berlari. Lari, lari dan berlari.

Lagi, dia bertemu dengan perempatan jalan. Kali ini, merupakan jalan raya yang banyak kendaraan hilir mudik dengan lampu merah yang mengatur perempatan itu. Ditengah-tengahnya terdapat Zebra Cross untuk para pejalan kaki.

Natan berhenti sejenak untuk mengatur nafas. Sudah terlalu banyak tenaga yang dia gunakan untuk berlari dan mengkhawatirkan Ibunya.

Ditengah mengatur nafas, kembali kilatan masa itu muncul di kepalanya.

Kulihat, Ibu menjinjing sekantong daging di tengah jalan. Dengan baju putih lengan panjang dan kerudung sutra berwarna putih yang selalu ia kenakan setiap harinya. Tiba-tiba di perempatan jalan, ada sebuah mobil yang menabrak Ibu. Darah bergelinang disana dan matanya tak terbuka lagi.

Tubuhnya terasa sangat lelah setiap kali melihat kilatan masa itu. Ditambah lagi setelah dia berlari dengan sangat kencangnya. Tubuhnya gemetar dan keringat mulai bercucuran di keningnya. Tubuhnya yang tak sanggup menahan lelah itu, langsung merebah. Tapi tangan dan lututnya sempat menahan tubuhnya yang lunglai itu. Kini ia tengah bersujud kerena lelah yang berkepanjangan. Dia langsung mengangkat kepala untuk mencoba bangun kembali. Pandangannya tertuju ke perempatan jalan. Tiba-tiba.

“Ibu?” katanya heran saat melihat sesosok wanita yang dari tadi ia cari. Perasaan lega muncul di hatinya yang kosong. “Ibu!” teriaknya. Berharap wanita itu segera menghampirinya dan membawanya pulang ke rumah. Kerumah, satu-satunya tempat yang selama ini memberikan sedikit kebahagiaan bagi Natan, disaat dunia luar tak menerima kelemahan yang ia miliki.

Sekilas, Ibu melihat kearah Natan. Senyuman terpancar dari wajahnya yang mulai keriput termakan oleh usia. Selama ini, Natan tidak terlalu memperhatikan perubahan yang terjadi pada Ibunya.

“Apakah aku akan selalu melihat senuyuman itu? Senyuman tulus dari wanita tua yang selalu melihatku tumbuh dan menyimpan segala kesah untuk dirinya sendiri. Wanita yang takut untuk membagikan kepedihan akan kehilangan suami yang ia cintai. Takut untuk melukai anak yang menjadi satu-satunya kenangan pengingat akan masa-masa bahagianya dimasa lalu. Tapi aku membutuhkan kepedihan untuk tumbuh, bu!” bisik Natan dalam hatinya. Sambil memberikan senyum yang dipaksakan dar bibirnya.

Sudah lama Natan tidak pernah membalas senyuman dari Ibunya. Senyuman yang setiap hari Ibunya umbar untuk Natan. Tapi, itu adalah senyuman terakhir yang ia terima.

Kondisi perempatan yang tidak terlalu ramai, menampakkan beberapa mobil yang hanya mengantri. Tiba-tiba, ditengah kondisi jalanan yang tidak terlalu ramai, sebuah mobil Jeep FJ40 melaju dengan kencang dan menerobos lampu merah. Menabrak mobil Sedan yang merupakan satu-satunya mobil yang sedang mengantri dibarisan depan. Seketika mobil Sedan itu terdorong dengan kerasnya kearah depan menuju kearah Ibu yang tengah melintas. Ibu berusaha untuk lari dan baru beberapa langkah, mobil Sedan yang terdorong itu langsung menghantam tubuh wanita tua itu.

Tubuh Ibu terpelanting kearah depan. Mobil Sedan itu sedikit melambat karena manabrak tubuh Ibu yang tengah melintas. Tubuh Ibu yang menjejal aspal kini tak bergerak dan darah kental mulai berlinang diatas aspal yang dingin. Sedingin tatapan yang diberikan oleh Natan kala itu. Anak yang hanya bisa melihat kematian Ibunya di depan mata tanpa bisa melakukan apa-apa.

Tubuh Natan yang sebelumnya letih, kini tersasa bertenaga. Tenaga dari kepahitan dan kesengsaraan kehilangan satu-satunya wanita yang peduli akan dirinya. Tapi, kini wanita itu tak bergerak lagi dan tak akan memerikan senyumannya setiap kali Natan bangun dari tidur.

“Tidak!” teriak Natan sekuat tenaga sambil berlari menuju tubuh berlumuran darah itu. Dinginnya aspal tempat ia berlari, menambah kesan kesengsaraan bagi dirinya. Seakan langit runtuh membunuh setiap makhluk bernyawa di atas bumi dan menyisakan dirinya seorang di tengah-tengah bumi yang sara.

Ia rangkul tubuh wanita tua itu. Tapi, tubuh itu tak kunjung bergerak.

“Apa kau juga akan meninggalkanku sama halnya yang dilakukan oleh Ayah. Tidakkah kau kasihan melihat anakmu ini. Anak yang tidak pernah memberikan kebanggan sedikitpun untukmu. Tapi kau yang selalu melihatku tumbuh. Kau yang selalu melihatku berkembang. Kau yang selalu melihatku terbang. Dan kau yang selalu melihatku jatuh. Memapah dan memberiku semangat kala dunia ini tak menerima diri ini. Tapi, kini kau tinggalkan diriku sendiri. Kenapa? Kenapa? Kenapa?” teriaknya. Berharap suara itu akan didengar oleh tubuh kaku itu.

Orang-orang hanya memperhatikan tanpa melakukan apapun. Heran akan kematian, lebih heran lagi melihat mereka yang hanya menonotn tontonan yang tidak patut untuk ditonton.

Ditengah-tengah kepedihan yang ia rasakan. Kembali kilatan masa itu muncul di kepalanya.

Kulihat, diriku menyudut di tepi kamar. Tak seorangpun yang berada di rumah dan menemani diri ini. Ibu yang biasanya membuat kue di malam hari sambil sesekali memanggil namaku untuk mencicipi kue buatannya, kini tak ada lagi. Ibu yang biasanya membuatkan sarapan dan memberikan senyuman setiap paginya, kini tak ada lagi. Aku kesepian. Ditengah-tengah rumah kosong dan dunia yang terkutuk ini. Tunggu! Ada pria yang mengawasiku. Siapa kau pria hitam legam bertelanjang dada?

Kilatan masa itu menguras habis tenaga Natan. Membuatnya tak sadarkan diri di tepi tubuh kaku Ibunya. Rasa letih, pedih, sesak, marah, sedih, kecewa dan heran menggumpal di dalam hatinya sebelum tubuhnya yang letih rebah di atas aspal.

“Paling tidak aku bersamanya disaat terakhir ini. Dunia ini terkutuk!” gumamnya dalam hati saat tubuhnya rebah di tengah-tengah kerumunan orang banyak yang menyaksikan peristiwa itu dan tentunya di samping tubuh Ibu yang kaku.

Bersambung...

Karya: Bang Good


Tidak ada komentar:

Posting Komentar