Dua Tahun Sebelumnya
Aku
Ali, Mahasiswa Teknik di Universitas Andalas. Teknik Industri jurusanku.
Sekarang adalah semester enam masa perkuliahan ku. Aku proses dalam tiga tahun
disini. Dimana hari-hari yang belum ada aku rasakan menjadi manis, asin serta
pahit perharinya. Tapi itu tetap saja luar biasa. Aku tahu pasti semuanya juga
merasa seperti aku, hal luar biasa yang kadang seperti biasa saja namun rasanya
beda. Ataukah ada hal menakjubkan namun itu terasa datar. Perasaan mahasiswalah
yang seperti itu. Seperti aku.
Handphoneku
berdering. Disana tertulis Umi Hani. “Assalamualaikum, Umi.”
“Waalaikumsalam
nak. Ali apa kabar? Sehat nak? Sekarang lagi dimana? Udah pulang dari kampus?”
celoteh Umi Hani.
Oh
iya, aku lupa bahwa sekarang sudah jam 9 malam. Aku adalah sedikit seorang
aktivis kampus. Mungkin menyukai kampus boleh dibilang juga seperti itu. Aku
memiliki organisasi yang lumayan sibuk. Sehingga hampir setiap hari termasuk
akhir pekan pun aku masih di kampus dan pulangnya selalu malam. Hampir setiap hari
dan setiap minggunya seperti itu.
Oleh
sebab itu, Umi menanyakan aku lagi dimana. Umi Hani bukanlah orang yang
melahirkan aku. Aku sudah tak memiliki ibu. Kontrak Ibu dengan dunia berakhir
ketika aku kelas 11 SMA, itu 4 tahun yang lalu. Dan aku tahu semua rencana
Allah adalah sempurna, termasuk tentang aku yang merasa kehilangan ibu.
Masih
ingat pertama kali bertemu Umi disini. Umi yang cerewetnya masih sama dengan
hari ini, yang perhatian padaku seperti anak sendiri atau yang bertanya selalu
seperti soda kocok yang dibuka tutupnya. Semester 5, aku bertemu Umi dijalan
kawasan kampus. Aku melihat yang berjalan tunduk kebawah. Aku mengendarai
sepeda motor waktu itu, lalu aku berhenti tepat di depan Umi. “Assalamualaikum
buk, mau kemana?”
“Waalaikumsalam,
ya nak? Oh, ibuk mau ke Fakultas Pertanian.”
Sejak
saat itulah aku mengenal Umi. Umi menerima tawaranku untuk diantarkan ke
Fakultas Pertanian. Umi sangat humble sekali.
Aku saja yang jarang bicara akhirnya senang bicara dengan Umi. Terasa nyaman
mengobrol dengan Umi, dan Umi tak pernah kehabisan bahan. Seperti seorang Ibu
yang selalu ada cara dan bahan untuk mengobrol dengan anaknya.
Tentu
saja seperti itu, Umi hanya memiliki Syareefah. Anak tunggal dari pasangan Umi
Hani dan Abi Gusti. Umi tak memiliki anak laki-laki. Mungkin salah satu
alasannya Umi perhatian padaku adalah itu. Umi juga seorang dosen. Dosen
Psikologi Filsafat di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Universitas itu
letaknya di Surabaya.
Umi
datang ke Padang untuk sebuah urusan akademik. Aku tak tahu banyak dan dan tak
mau kepo soal itu, itu pribadinya Umi. Tapi yang mengherankan adalah jika ada
urusan akademik kampus ataupun fakultas, lantas kenapa Umi ke Fakultas
Pertanian. Ini masih misteri bagiku, dan aku juga tak bertanya soal ini pada
Umi.
“Alhamdulillah
Ali sehat, Umi. Sekarang udah sampai di kosan. Tapi baru nyampe sih mi hehe,” jawabku
dengan seringai pada Umi, walaupun aku tak terlihat seringai oleh Umi. “Umi
kabarnya sehatkan? Abi dan Syareefah juga kan?”
“Umi
juga sama kayak Ali. Abi lagi nonton TV tuh, sehat juga. Syareefah tanya
sendiri aja nanti sama Ali.”
“Lah
memangnya kenapa Umi?” aku mencoba mengeluarkan nada heran, namun tetap saja
tak seperti orang keheranan karena seringaiku mengiringi kalimat itu.
Terdengar
suara Umi yang dari kejauhan telpon memanggil Syareefah. Segera diam panggilan
itu dan seseorang bicara, “Halo assalamualaiku.”
Ah,
ini suara Syareefah dalam benakku terbesit seketika. “Waalaikumsalam, Ipah apa
kabar?”
“Syareefah
kak, bukan Ipah ya. Alhamdulillah sehat,” jawab Syareefah tegas. Aku tahu
bahwasanya Syareefah ini orang yang tegas. Walaupun baru sekali pernah bicara
melalui telpon dengannya. Aku juga tak pernah bertemu dengannya.
Aku
ingin mencoba lagi untuk membuat suasana tawa riang, namun dari pengalaman
sebelumnya Syareefah tak tertarik dengan hal ini. Jadi aku bicara seperti biasa
saja. “Iya Syareefah, maafkan ya. Ali bercanda.”
“Iya
kak, lain kali jangan bercanda kayak gitu lagi,” masih dengan irama tegas
jawabnya Syareefah. Aku terbayang seperti apa karakter Syareefah yang tegas
ini. Dia pasti orang yang tegar juga. Syareefah saat ini masih menduduki kelas
10 SMA di Surabaya.
“Oke
syareefah. Silahkan beristirhatlah, anak SMA gak boleh tidur larut malam,” aku
mengatakan dengan irama yang begitu santai. Seakan dia adalah adikku sendiri.
“Selamat
malam.”
“Selamat
malam,” suaraku melembut.
Begitulah
akhir cerita kali ini. Dan selang beberap hari aku menerima pesan dari Umi,
bahwasanya Syareefah sudah memaki cadar ke sekolahnya. Aku terkagum mendengar
itu. Memang benar, Syareefah ini benar tegas aku rasa. Terlintas seperti itu
dalam benakku.
Aku
tak memiliki nomor telpon Syareefah. Apalagi WhatsApp dan medsos lainnya. Tapi
aku punya nomor telpon Umi, dan aku malu untuk menelpon. Tapi Umi pernah
meninggalkan nomor telepon rumahnya padaku. Dan saat ini ternyata telepon rumah
masih digunakan kataku.
“Kalau
mau nelpon kerumah telpon kenomor ini aja,” sembari Umi mengulurkan kertas
padaku. “Umi kadang sibuk di rumah, jadi telpon aja kesini kalau mau ngobrol sama
Abi atau Syareefah.”
Akupun
menuju telpon kenomor yang Umi sodorkan padaku. Tak lama aku menunggu untuk
diangkat.
“Halo
assalamualaikum.”
Ini
suaranya Umi, kataku tak bersuara. Aku memejamkan mata karena sengaja menelpon
kesini tidak kenomor Umi karna malu. “Ini Ali, Umi.”
“Oh
Ali, mau ngobrol dengan Syareefah ya? Bentar Umi panggilkan Syareefahnya.”
Ternyata
Umi tau maksudku. Untung saja Umi sadar bahwasanya aku menghindari untuk
menelpon kenomornya karena malu. Dan aku juga takut Umi juga dalam keadaan
sibuk.
“Ali,
Umi tau maksud Ali kok. Tapi kalau mau nelpon Umi gak usah malu-malu,” jawab
Umi seperti merayu.
Rayuan
Umi membatku memang terbesit malu. “Iya, Umi. Siap.”
“Assalamualaikum
kak Ali. Apanya yang siap kak?” Syareefah langsung bergantian dengan Umi
menjawab telpon ini.
“Eh,
gak ada. Itu jawaban untuk Umi.”
“Ada
perlu apa kak?”
“Syareefah
gimana make cadar di sekolah? Semuanya aman?” Kali ini baru nada bicaraku
heran.
“Alhamdulillah
kak, doakan Syareefah ya biar tetap istiqomah makai cadarnya. Kakak pasti tau
kondisinya, kalaupun gak Syareefah jawab kakak pasti tau bagaimana Syareefah di
sekolah dengan kondisinya,” jawab Syareefah terdengar senang.
Aku
langsung tahu apa yan Syareefah maksudkan. Itu pasti berat baginya, terlebih
dia barulah junior paling kecil disekolahnya. Tapi dengan pikiranku sebelumnya
dia pasti anak yang tegar. “Siap, kak Ali bakal doakan Syareefah.”
Aku
bicara banyak dengan Syareefah, tak pernah sebanyak ini biasanya. Syareefah pun
lebih mau bercerita, berbeda dengan sebelumnya. Sifat tegasnya masih ada tapi
kali ini melembut. Lalu setelah berbicara tentang bagaimana di sekolahnya, apa
saja makanan di kantin sekolah, bagaimana dengan pekerjaan rumahnya, tiba saja
Syareefah merubah irama bicaranya.
“Kak,
maaf ya. Aku ngomong ini karna memang aku gak mau kayak gini. Kakak jangan
bicara akrab seperti itu padaku. Bersikaplah biasa. Jangan terlalu perhatian
padaku seperti itu. Bersikaplah biasa. Mungkin bagi kakak itu biasa dan
bercanda. Beda dengan wanita, diam-diam nanti ada yang terlintas dalam benaknya
dan nanti pergi kehatinya. Aku tak mau,” Syareefah bicara pelan dan maknanya
tersampaikan jelas padaku. “Berhenti bersikap seperti itu padaku, bersikaplah
biasa kak. Aku gak suka,” Sambungnya tegas seperti biasanya.
Aku
pun terheran dengan perkataan syareefah. Aku berusaha mencernanya. Memahami apa
yang Syareefah maksudkan. “Emm maksudnya gimana Syareefah, salah ya kak Ali?
Terlampau bercanda?”
“Iya,
jangan bercanda gitu lagi. Kan udah Syareefah bilang kemarin jangan bercanda
berlebihan.”
Aku
sedikit tersadar dengan perkataan Syareefah, dan mencoba membuat suasana
santai. “Maafkan Syareefah. Tapi bagi kak Ali biasa aja kok.”
Mungkin
bagiku memang iya biasa saja, namun bagaimana dengan Syareefah yang menanggapi
itu. Aku tak memikirkan itu ataukah aku memang bodoh ketika Syareefah
mengatakan ini.
“Memang
benar,” cetus Syareefah cepat.
“Bagaimana
jika nanti ternyata Syareefah jodoh sama kak Ali?” Aku masih bercanda dalam hal
ini. Mencoba membuat Syareefah juga ikut mengalir dalam suasana yang kubuat.
“Selamat
malam.”
“Selamat
malam,” jawabku melembut. Syareefah mengakhiri telpon dengan cepat.
Aku
merasa bersalah pada Syareefah, namun aku tak tahu apa yang membuat Syareefah
seperti itu. Apakah hanya wanita yang mengetahui? Dalam benakku bergelimang
pertanyaan seperti itu.
Setelah
malam itu, ketika aku ditelpon ataupun menelpon Umi tak ada banyak kata dari
Syareefah, sedikit jawaban seperti ya, tidak, mungkin. Hanya itu saja yang aku
dapatkan.
***
Tiga
tahun setelahnya.
Aku
Ali, hari ini adalah hari dimana akan selalu ada seseorang yang akan
mendampingiku, selama jalan Allah izinkan. Hari ini resepsi pernikahanku.
Seseorang yang sangat indah bagiku sedang duduk malu. Dibagian kananku, dia
memegang erat pergelangan tanganku. Seakan ini terasa digenggam. Mungkin dia
merasa malu, ataukah merasa grogi mungkin.
Hari
yang melelahkan dan menegangkan ini beranjak kemalam hari. Bukan hari seperti
itu saja, ini adalah hari yang spesial. Aku benar-benar kaku, grogi dan
bersyukur.
Waktu
Isya sudah lewat, lalu aku duduk ditempat yang dihias rapi nan berkerlap-kerlip
di kamar. Dia berada disampingku, duduk lurus menatap kedepan, bukan kearah aku
yang disebelahnya. Dia ternyata masih malu, kataku dalam hati.
“Aku
sebenarnya masih belum sanggup bicara denganmu,” keluar dari mulutnya dengan
lembut.
“Tak
apa, aku juga malu seperti ini. Aku merasa kaku dan tak tahu mau bicara apa,” jawabku.
Seharusnya aku tak mengatakan itu. Harusnya akulah yang membuka pembicaraan
agar suasana tak terasa kaku seperti ini.
“Kenapa
kakak memilihku, kenapa datang padaku?”
“Bukan
aku yang memilihmu, Allah yang membiarkan jalan ini tertuju padamu.
Syareefah...,” kataku terhenti, aku lupa akan sesuatu yang ingin aku sampaikan.
Aku benar-benar kaku.
“Benarkah
begitu?” jawab Syareefah tak pernah berubah. Masih tegas, walaupun sekarang aku
adalah orang yang akan sering berada bersamanya.
“Memang
benar begitu,” Aku semakin tersedak dan tersudut rasanya dengan tegasnya
Syareefah.
“Kakak
masih belum bisa tegas melebihi aku. Kakak harusnya bisa. Bukankah kakak pernah
menuliskan nama seseorang di hati kakak? Kenapa tidak datang padanya? Umi
menceritakan padaku, semester 6 kakak hanya memulai membangun kepercayaan diri
kakak lagi. Kakak bercerita pada Umi, kakak telah menjadi seseorang yang jahat.
Kenapa tak menebus kesalahan kakak padanya?” Syareefah berbicara dengan sedikit
cepat.
“Aku
memang pernah menuliskan nama seseorang dalam hatiku. Aku salah karena aku terlalu
egois waktu itu,” aku lalu diam. “Sekarang dia telah menemukan orang tepat.
Sama seperti aku. Aku bukanlah si jahat dan penghianat yang seperti Syareefah
bayangkan.”
“Bukankah
kakak jahat jika seperti itu, lantas kenapa datang padaku?
Dari
pertanyaannya aku tahu kalau Syareefah sedang meyakinkan dirinya padaku. Dia
sedang menilai kepercayaannya. Atau mungkin sedang mencoba mengukur sejauh mana
pilihannya benar. “Aku memang orang yang jahat. Lantas karena itu aku kembali
mencoba membangun seseuatu sesudahnya. Jikalau saja aku punya kemampuan merubah
masa lalu. Aku tak akan merubah sedetik pun, karena jika sedikit saja berubah
aku tak akan menemukanmu Syareefah. Aku berjalan menuju sesuatu yang indah,
kamulah yang telah indah untukku. Bukan aku yang mendatangimu, tapi Allah yang
saling mempertemukan kita.”
“Lalu
bagaimana dengan hatimu kakak, apakah masih ada luka?”
“Tentu
saja, kamu tahu luka dihati akan butuh waktu lama untuk sembuh. Aku selalu
ingin memperbaiki segala sesuatu yang telah aku lukai dulu, tapi lukaku sendiri
tak dapat aku sembuhkan dahulu.”
“Bagaiman
dua tahun sebelumnya? Ketika Umi meninggal kakak tak datang. Padahal Umi sering
menceritakan tentang kakak, dia menyayangi kakak seperti anaknya sendiri.
Seperti anak yang pergi merantau. Dia khawatir pada kakak.”
Aku
merebahkan diri pada tempat tidur. “Ah iya, itu dua tahun yang lalu ya.”
***
Dua
tahun sebelumnya.
Setelah
Syareefah tak mau bicara denganku lagi aku hanya bicara dengan Umi. Syareefah
tak mau memberi nomor teleponnya.
“Aku
tak ingin laki-laki memiliki nomorku, aku tak mau ada laki-laki asing mengirim
pesan padaku. Pakailah telepon rumah jika kakak ingin berbicara denganku,” begitu
kata Syareefah padaku.
Sejak
saat itu, dialah yang tak mau berbicara lagi padaku.
Suatu
hari, ketika kuliahku di penghujung ceritanya, dimana semua fikiran terfokus
pada tujuan yang sama pada semua tahun akhir waktu itu. Aku menerima telepon
disiang harinya, nomor yang tak pernah kusimpan, yang pendek digitnya. Aku tahu
itu nomor telepon rumahnya Syareefah. “Kak, Umi meninggal dunia,” lirih
Syareefah mengatakan padaku siang itu. Tak ada merasa angin, tak ada suara
dalam telingaku. Aku termenung. Tersentak telepon itu masih menangis.
“Adikku
Syareefah, sesungguhnya Allah lah yang memiliki semua yang kamu miliki. Allah
lah yang mempunyai cinta yang kamu rasakan. Yakinlah rencana Allah adalah
kesempurnaan,” seperti dan seolah akulah yang tegar saat itu, ingatanku juga
kembali ke masa lalu saat itu. Tapi aku juga merasa kehilangan seseorang yang
berharga bagiku, ketiga kalinya.
Hanya
suara lirih yang aku dengar dari telepon itu. Aku hanya diam membumi. Menunggu
suara lirih itu mereda, namun tak kunjung diam. Hatiku mulai merasa teriris,
aku tak tahan. Aku lepaskan Handphone
itu dari telingaku, terkulai dalam genggamanku.
Begitulah
dua tahun sebelumya.
Tubuhku
yang terebah kembali membuka matanya.
“Ah,
waktu itu ya. Ternyata dua tahun Umiku pergi meninggalkan kita,” aku memandangi
loteng yang dihiasi dengan bunga-bunga berwarna putih.
“Umiku?”
hanya satu kata itu dari mulut Syareefah .
“Ya,
dia adalah Umiku. Aku sudah menulisnya dalam hatiku juga. Dia seperti ibu
bagiku. Sama seperti yang kamu rasakan Syareefah. Aku tak bisa berbuat apa-apa
waktu itu. Aku tak punya apapun untuk mengunjungimu. Aku hanya punya Allah,
doaku selalu mengiringi kerinduan itu. Berharap aku bisa berziarah ke makam
Umi. Sungguh Syareefah, aku mengerti rasa sakitmu. Meskipun aku laki-laki dan
kau wanita yang mulia. Aku ingin menjadi obat bagimu, ingin menjadi salaf luka
ketika itu mulai membuka lagi. Biar aku yang menjadi perban untuk menghentikan
darah itu. Aku belum lah baik Syareefah. Kamu lebih baik dariku. Aku katakan
sekali lagi, ya Syareefah, jikalau aku mempunyai kekuatan untuk mengubah masa
lalu, tak akan kulakukan. Sedetikpun takkan kurubah. Aku bersyukur telah
menemukanmu. Sekarang biarkan aku yang menjadi milikmu, biarkan aku saja yang
menemukanmu. Tak akan kurubah sedetikpun Syareefah, aku hanya ingin menemukanmu
saat ini. Inilah jalanku, jalan yang Allah siapkan untukku. Sekarang aku
bersamamu,” begitu panjang tatapanku pada loteng yang indah ini. Begitu juga
kata yang kusiapkan untuk Syareefah dengar dan cerna. “Aku mulai ingin menutup
mata, apakah kamu masih adik yang SMA Syareefah?”
“Aku
bukan adik kecilmu lagi,” mulai melembut suara Syareefah. Dia beranjak duduk
keujung tempat tidur. Apakah karena Syareefah gelisah ataukah karna mulai
tenang?
“Syareefah
bolehkah aku mulai beristirahat saat ini. Aku benar-benar merasa canggung
padamu. Adikku yang sedang meragu, janganlah simpan rasa itu. Berikan rasa itu
padaku.”
“Beristirahatlah,
mungkin kakak sudah mulai menua ya. Iyakah kakak dulu anak teknik?” suaranya
riang, namun aku tau itu suara yang mencoba berbuat riang.
“Aku
akan beristirahat, Syareefah...,” suaraku terhenti pada nama yang indah bagiku.
Gelombang betaku sangat tinggi, tanda aku benar-benar mengantuk. Aku mulai
melelapkan diri. 5 menit aku rasa mataku tertutup, dalam keterlayanganku
kudengar suara yang bersedih.
Ini
suara Syareefah. “Aku benar-benar bersyukur karena memang engkau yang datang
padaku. Namamulah yang aku rindukan, sejak saat kamu meminta aku untuk
mengajarkan menggunakan bahasa Arab praktis. Sejak saat kamu memanggilku Anti,
sejak saat kamu mulai menggunakan berbagai cara riang padaku, aku mulai
merindukan sebuah nama. Namamu. Setiap malam namamu mengangkasa dari hati dan
gerak bibirku.”
Aku
tersentak mendengar kata itu. Aku kembali bangun, namun tak kubuka mataku. Aku
tahan diam mata ini. Aku merasa yakin, Syareefah mulai mengeluarkan air
matanya, walaupun aku ingin menghentikan itu namun langkahku terhenti. Aku
hanya diam dengan mata terpejam diketerbangunanku.
“Aku
tau kakak pernah menulis nama seseorang pada hatimu, yang membuat luka hatimu.
Yang membuat kau menjadi jahat padanya. Aku juga ingin menjadi obat bagimu,
biarkan aku merasakan itu. Biarkan aku menjadi apa yang membuatmu tenang. Aku
tak mengapa dengan hati yang ada luka yang kau bawa. Aku ingin menjadi apa yang
membuat sembuh luka itu.”
Aku
takut membuka mata, supaya Syareefah tak melihatku membuka mata. Atau nanti dia
akan malu ketika sadar aku menengarnya. Aku tahu dia semakin lirih, mulai
menangis. Dalam gambaranku dia sedang tertunduk dengan memulai perkataannya.
“Aku
tau kakak merasa sakit ketika Umi meninggal. Lalu aku juga tau bagaimana kakak
merasakan itu. Kakak menelpon Abi, menangis sejadi-jadinya, meminta maaf tak
ada hentinya. Abi ceritakan itu padaku. Aku tau kakak seperti itu, tak hentinya
mengirim pesan minta maaf ke nomor Umi. Lalu aku bersyukur bisa engkau temukan.
Aku selalu bertanya bagaiman kakak pada Umi, aku selalu penasaran bagaimana
nama yang aku rindukan. Tapi ketika kakak datang pada Abi, tanpa melihat
bagaimana aku, tanpa ingin bertanya bagaimana aku, kakak langsung mengatakan
kata yang akan menjadi janji seumur hidup. Aku bisa melihat bagaimana
keyakinanmu padaku, Atau kamu begitu yakin karena Umi bukan? Aku tahu itu. Lalu
aku sangat bersyukur kamu benar-benar menemukan aku, kakak.”
Ingin
rasanya aku menjawab itu. Aku tahu dia sudah melelehkan banyak air mata.
Semakin dan semakin dalam dia menangis.
“Aku
tahu kamu adalah orang yang Allah pilih untukku, jikalaupun kau bisa merubah
masa lalu aku masih ingin kau tak bersedih dengan luka itu. Tapi aku akan egois
karena memang namamu yang aku rindukan. Terimakasih telah datang padaku. Aku
akan menjadi apa yang membuatmu tenang. Kau harus membimbing aku, menjadi rasa
kasih sayang seperti Umi, menjadi rasa perhatian seperti Abi. Kamu tahu aku
masih sangat muda dengan umurku. Kamu tahu aku tak mempedulikan kuliahku lagi
untukmu. Aku dulu takut hatiku menuliskan nama seseorang atas egoisku,
sedangkan kamu terus datang dengan seperti yang aku inginkan. Tak ada yang
seperti itu padaku dulu. Sekarang hatiku sudah tertulis rapi namamu,” terdiam
Syareefah dengan isak pelan tangisnya. Dia menahan itu, dan sesak itu.
“Muhammad
Ali aku ingin memanggilmu Hubby. Izinkan
aku untuk itu. Hubby inni uhibbuka fillah.”
Aku
membuka mataku, aku tak tahan lagi mendengar tangisnya yang dalam dan
terisak-isak. “Panggillah aku dengan panggilan itu, lalu aku akan memanggilmu Aisy. Inni uhibbuki fillah,” aku lalu menarik lengan Syareefah, dan
meletakkan pipinya di bahuku yang miring. Aku coba terima rasa yang ada
padanya. Membasahi seluruh pipiku. Dia terus mengalirkan air asin itu dari
matanya. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya terima itu. “Jangan malu, maaf
jika kau malu karenaku. Aku ada disini untuk ini.”
“Hubby aku juga tak lebih baik darimu.
Kau tak perlu merendahkan diri. Aku ingin belajar denganmu. Aku ingin menjadi
baik denganmu.”
Sedalam
itu Syareefah katakan padaku. Aku akhirnya mengerti kenapa dia setegas dan
setegar itu dulu. Aku tahu dimanana aku salah padanya dulu. Aku sadar rasa
marahnya karena bercandanya aku. Kenapa aku dulu begitu tak mengerti ini. Tapi
bukankah sempurna Allah ciptakan sebuah jalan dan alur?
Begitulah
sebuah takdir bercerita. Tak ada sedikit cacatpun dalam hal itu.
By: Helearn

Tidak ada komentar:
Posting Komentar