Dex Story

“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis” - Imam Al-Ghazali -

Friendsternya Ade Sanusi

Cerpen Dua Tahun Sebelumnya Karya Helearn



Dua Tahun Sebelumnya


Aku Ali, Mahasiswa Teknik di Universitas Andalas. Teknik Industri jurusanku. Sekarang adalah semester enam masa perkuliahan ku. Aku proses dalam tiga tahun disini. Dimana hari-hari yang belum ada aku rasakan menjadi manis, asin serta pahit perharinya. Tapi itu tetap saja luar biasa. Aku tahu pasti semuanya juga merasa seperti aku, hal luar biasa yang kadang seperti biasa saja namun rasanya beda. Ataukah ada hal menakjubkan namun itu terasa datar. Perasaan mahasiswalah yang seperti itu. Seperti aku.

Handphoneku berdering. Disana tertulis Umi Hani. “Assalamualaikum, Umi.”

“Waalaikumsalam nak. Ali apa kabar? Sehat nak? Sekarang lagi dimana? Udah pulang dari kampus?” celoteh Umi Hani.

Oh iya, aku lupa bahwa sekarang sudah jam 9 malam. Aku adalah sedikit seorang aktivis kampus. Mungkin menyukai kampus boleh dibilang juga seperti itu. Aku memiliki organisasi yang lumayan sibuk. Sehingga hampir setiap hari termasuk akhir pekan pun aku masih di kampus dan pulangnya selalu malam. Hampir setiap hari dan setiap minggunya seperti itu.

Oleh sebab itu, Umi menanyakan aku lagi dimana. Umi Hani bukanlah orang yang melahirkan aku. Aku sudah tak memiliki ibu. Kontrak Ibu dengan dunia berakhir ketika aku kelas 11 SMA, itu 4 tahun yang lalu. Dan aku tahu semua rencana Allah adalah sempurna, termasuk tentang aku yang merasa kehilangan ibu.

Masih ingat pertama kali bertemu Umi disini. Umi yang cerewetnya masih sama dengan hari ini, yang perhatian padaku seperti anak sendiri atau yang bertanya selalu seperti soda kocok yang dibuka tutupnya. Semester 5, aku bertemu Umi dijalan kawasan kampus. Aku melihat yang berjalan tunduk kebawah. Aku mengendarai sepeda motor waktu itu, lalu aku berhenti tepat di depan Umi. “Assalamualaikum buk, mau kemana?”

“Waalaikumsalam, ya nak? Oh, ibuk mau ke Fakultas Pertanian.”

Sejak saat itulah aku mengenal Umi. Umi menerima tawaranku untuk diantarkan ke Fakultas Pertanian. Umi sangat humble sekali. Aku saja yang jarang bicara akhirnya senang bicara dengan Umi. Terasa nyaman mengobrol dengan Umi, dan Umi tak pernah kehabisan bahan. Seperti seorang Ibu yang selalu ada cara dan bahan untuk mengobrol dengan anaknya.

Tentu saja seperti itu, Umi hanya memiliki Syareefah. Anak tunggal dari pasangan Umi Hani dan Abi Gusti. Umi tak memiliki anak laki-laki. Mungkin salah satu alasannya Umi perhatian padaku adalah itu. Umi juga seorang dosen. Dosen Psikologi Filsafat di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Universitas itu letaknya di Surabaya.

Umi datang ke Padang untuk sebuah urusan akademik. Aku tak tahu banyak dan dan tak mau kepo soal itu, itu pribadinya Umi. Tapi yang mengherankan adalah jika ada urusan akademik kampus ataupun fakultas, lantas kenapa Umi ke Fakultas Pertanian. Ini masih misteri bagiku, dan aku juga tak bertanya soal ini pada Umi.

“Alhamdulillah Ali sehat, Umi. Sekarang udah sampai di kosan. Tapi baru nyampe sih mi hehe,” jawabku dengan seringai pada Umi, walaupun aku tak terlihat seringai oleh Umi. “Umi kabarnya sehatkan? Abi dan Syareefah juga kan?”

“Umi juga sama kayak Ali. Abi lagi nonton TV tuh, sehat juga. Syareefah tanya sendiri aja nanti sama Ali.”

“Lah memangnya kenapa Umi?” aku mencoba mengeluarkan nada heran, namun tetap saja tak seperti orang keheranan karena seringaiku mengiringi kalimat itu.

Terdengar suara Umi yang dari kejauhan telpon memanggil Syareefah. Segera diam panggilan itu dan seseorang bicara, “Halo assalamualaiku.”

Ah, ini suara Syareefah dalam benakku terbesit seketika. “Waalaikumsalam, Ipah apa kabar?”

“Syareefah kak, bukan Ipah ya. Alhamdulillah sehat,” jawab Syareefah tegas. Aku tahu bahwasanya Syareefah ini orang yang tegas. Walaupun baru sekali pernah bicara melalui telpon dengannya. Aku juga tak pernah bertemu dengannya.

Aku ingin mencoba lagi untuk membuat suasana tawa riang, namun dari pengalaman sebelumnya Syareefah tak tertarik dengan hal ini. Jadi aku bicara seperti biasa saja. “Iya Syareefah, maafkan ya. Ali bercanda.”

“Iya kak, lain kali jangan bercanda kayak gitu lagi,” masih dengan irama tegas jawabnya Syareefah. Aku terbayang seperti apa karakter Syareefah yang tegas ini. Dia pasti orang yang tegar juga. Syareefah saat ini masih menduduki kelas 10 SMA di Surabaya.

“Oke syareefah. Silahkan beristirhatlah, anak SMA gak boleh tidur larut malam,” aku mengatakan dengan irama yang begitu santai. Seakan dia adalah adikku sendiri.

“Selamat malam.”

“Selamat malam,” suaraku melembut.

Begitulah akhir cerita kali ini. Dan selang beberap hari aku menerima pesan dari Umi, bahwasanya Syareefah sudah memaki cadar ke sekolahnya. Aku terkagum mendengar itu. Memang benar, Syareefah ini benar tegas aku rasa. Terlintas seperti itu dalam benakku.

Aku tak memiliki nomor telpon Syareefah. Apalagi WhatsApp dan medsos lainnya. Tapi aku punya nomor telpon Umi, dan aku malu untuk menelpon. Tapi Umi pernah meninggalkan nomor telepon rumahnya padaku. Dan saat ini ternyata telepon rumah masih digunakan kataku.

“Kalau mau nelpon kerumah telpon kenomor ini aja,” sembari Umi mengulurkan kertas padaku. “Umi kadang sibuk di rumah, jadi telpon aja kesini kalau mau ngobrol sama Abi atau Syareefah.”

Akupun menuju telpon kenomor yang Umi sodorkan padaku. Tak lama aku menunggu untuk diangkat.

“Halo assalamualaikum.”

Ini suaranya Umi, kataku tak bersuara. Aku memejamkan mata karena sengaja menelpon kesini tidak kenomor Umi karna malu. “Ini Ali, Umi.”

“Oh Ali, mau ngobrol dengan Syareefah ya? Bentar Umi panggilkan Syareefahnya.”

Ternyata Umi tau maksudku. Untung saja Umi sadar bahwasanya aku menghindari untuk menelpon kenomornya karena malu. Dan aku juga takut Umi juga dalam keadaan sibuk.

“Ali, Umi tau maksud Ali kok. Tapi kalau mau nelpon Umi gak usah malu-malu,” jawab Umi seperti merayu.

Rayuan Umi membatku memang terbesit malu. “Iya, Umi. Siap.”

“Assalamualaikum kak Ali. Apanya yang siap kak?” Syareefah langsung bergantian dengan Umi menjawab telpon ini.

“Eh, gak ada. Itu jawaban untuk Umi.”

“Ada perlu apa kak?”

“Syareefah gimana make cadar di sekolah? Semuanya aman?” Kali ini baru nada bicaraku heran.

“Alhamdulillah kak, doakan Syareefah ya biar tetap istiqomah makai cadarnya. Kakak pasti tau kondisinya, kalaupun gak Syareefah jawab kakak pasti tau bagaimana Syareefah di sekolah dengan kondisinya,” jawab Syareefah terdengar senang.

Aku langsung tahu apa yan Syareefah maksudkan. Itu pasti berat baginya, terlebih dia barulah junior paling kecil disekolahnya. Tapi dengan pikiranku sebelumnya dia pasti anak yang tegar. “Siap, kak Ali bakal doakan Syareefah.”

Aku bicara banyak dengan Syareefah, tak pernah sebanyak ini biasanya. Syareefah pun lebih mau bercerita, berbeda dengan sebelumnya. Sifat tegasnya masih ada tapi kali ini melembut. Lalu setelah berbicara tentang bagaimana di sekolahnya, apa saja makanan di kantin sekolah, bagaimana dengan pekerjaan rumahnya, tiba saja Syareefah merubah irama bicaranya.

“Kak, maaf ya. Aku ngomong ini karna memang aku gak mau kayak gini. Kakak jangan bicara akrab seperti itu padaku. Bersikaplah biasa. Jangan terlalu perhatian padaku seperti itu. Bersikaplah biasa. Mungkin bagi kakak itu biasa dan bercanda. Beda dengan wanita, diam-diam nanti ada yang terlintas dalam benaknya dan nanti pergi kehatinya. Aku tak mau,” Syareefah bicara pelan dan maknanya tersampaikan jelas padaku. “Berhenti bersikap seperti itu padaku, bersikaplah biasa kak. Aku gak suka,” Sambungnya tegas seperti biasanya.

Aku pun terheran dengan perkataan syareefah. Aku berusaha mencernanya. Memahami apa yang Syareefah maksudkan. “Emm maksudnya gimana Syareefah, salah ya kak Ali? Terlampau bercanda?”

“Iya, jangan bercanda gitu lagi. Kan udah Syareefah bilang kemarin jangan bercanda berlebihan.”

Aku sedikit tersadar dengan perkataan Syareefah, dan mencoba membuat suasana santai. “Maafkan Syareefah. Tapi bagi kak Ali biasa aja kok.”

Mungkin bagiku memang iya biasa saja, namun bagaimana dengan Syareefah yang menanggapi itu. Aku tak memikirkan itu ataukah aku memang bodoh ketika Syareefah mengatakan ini.

“Memang benar,” cetus Syareefah cepat.

“Bagaimana jika nanti ternyata Syareefah jodoh sama kak Ali?” Aku masih bercanda dalam hal ini. Mencoba membuat Syareefah juga ikut mengalir dalam suasana yang kubuat.

“Selamat malam.”

“Selamat malam,” jawabku melembut. Syareefah mengakhiri telpon dengan cepat.
Aku merasa bersalah pada Syareefah, namun aku tak tahu apa yang membuat Syareefah seperti itu. Apakah hanya wanita yang mengetahui? Dalam benakku bergelimang pertanyaan seperti itu.

Setelah malam itu, ketika aku ditelpon ataupun menelpon Umi tak ada banyak kata dari Syareefah, sedikit jawaban seperti ya, tidak, mungkin. Hanya itu saja yang aku dapatkan.

***
Tiga tahun  setelahnya.

Aku Ali, hari ini adalah hari dimana akan selalu ada seseorang yang akan mendampingiku, selama jalan Allah izinkan. Hari ini resepsi pernikahanku. Seseorang yang sangat indah bagiku sedang duduk malu. Dibagian kananku, dia memegang erat pergelangan tanganku. Seakan ini terasa digenggam. Mungkin dia merasa malu, ataukah merasa grogi mungkin.


Hari yang melelahkan dan menegangkan ini beranjak kemalam hari. Bukan hari seperti itu saja, ini adalah hari yang spesial. Aku benar-benar kaku, grogi dan bersyukur.

Waktu Isya sudah lewat, lalu aku duduk ditempat yang dihias rapi nan berkerlap-kerlip di kamar. Dia berada disampingku, duduk lurus menatap kedepan, bukan kearah aku yang disebelahnya. Dia ternyata masih malu, kataku dalam hati.

“Aku sebenarnya masih belum sanggup bicara denganmu,” keluar dari mulutnya dengan lembut.

“Tak apa, aku juga malu seperti ini. Aku merasa kaku dan tak tahu mau bicara apa,” jawabku. Seharusnya aku tak mengatakan itu. Harusnya akulah yang membuka pembicaraan agar suasana tak terasa kaku seperti ini.

“Kenapa kakak memilihku, kenapa datang padaku?”

“Bukan aku yang memilihmu, Allah yang membiarkan jalan ini tertuju padamu. Syareefah...,” kataku terhenti, aku lupa akan sesuatu yang ingin aku sampaikan. Aku benar-benar kaku.

“Benarkah begitu?” jawab Syareefah tak pernah berubah. Masih tegas, walaupun sekarang aku adalah orang yang akan sering berada bersamanya.

“Memang benar begitu,” Aku semakin tersedak dan tersudut rasanya dengan tegasnya Syareefah.

“Kakak masih belum bisa tegas melebihi aku. Kakak harusnya bisa. Bukankah kakak pernah menuliskan nama seseorang di hati kakak? Kenapa tidak datang padanya? Umi menceritakan padaku, semester 6 kakak hanya memulai membangun kepercayaan diri kakak lagi. Kakak bercerita pada Umi, kakak telah menjadi seseorang yang jahat. Kenapa tak menebus kesalahan kakak padanya?” Syareefah berbicara dengan sedikit cepat.

“Aku memang pernah menuliskan nama seseorang dalam hatiku. Aku salah karena aku terlalu egois waktu itu,” aku lalu diam. “Sekarang dia telah menemukan orang tepat. Sama seperti aku. Aku bukanlah si jahat dan penghianat yang seperti Syareefah bayangkan.”

“Bukankah kakak jahat jika seperti itu, lantas kenapa datang padaku?

Dari pertanyaannya aku tahu kalau Syareefah sedang meyakinkan dirinya padaku. Dia sedang menilai kepercayaannya. Atau mungkin sedang mencoba mengukur sejauh mana pilihannya benar. “Aku memang orang yang jahat. Lantas karena itu aku kembali mencoba membangun seseuatu sesudahnya. Jikalau saja aku punya kemampuan merubah masa lalu. Aku tak akan merubah sedetik pun, karena jika sedikit saja berubah aku tak akan menemukanmu Syareefah. Aku berjalan menuju sesuatu yang indah, kamulah yang telah indah untukku. Bukan aku yang mendatangimu, tapi Allah yang saling mempertemukan kita.”

“Lalu bagaimana dengan hatimu kakak, apakah masih ada luka?”

“Tentu saja, kamu tahu luka dihati akan butuh waktu lama untuk sembuh. Aku selalu ingin memperbaiki segala sesuatu yang telah aku lukai dulu, tapi lukaku sendiri tak dapat aku sembuhkan dahulu.”

“Bagaiman dua tahun sebelumnya? Ketika Umi meninggal kakak tak datang. Padahal Umi sering menceritakan tentang kakak, dia menyayangi kakak seperti anaknya sendiri. Seperti anak yang pergi merantau. Dia khawatir pada kakak.”

Aku merebahkan diri pada tempat tidur. “Ah iya, itu dua tahun yang lalu ya.”

***
Dua tahun sebelumnya.

Setelah Syareefah tak mau bicara denganku lagi aku hanya bicara dengan Umi. Syareefah tak mau memberi nomor teleponnya.

“Aku tak ingin laki-laki memiliki nomorku, aku tak mau ada laki-laki asing mengirim pesan padaku. Pakailah telepon rumah jika kakak ingin berbicara denganku,” begitu kata Syareefah padaku.

Sejak saat itu, dialah yang tak mau berbicara lagi padaku.

Suatu hari, ketika kuliahku di penghujung ceritanya, dimana semua fikiran terfokus pada tujuan yang sama pada semua tahun akhir waktu itu. Aku menerima telepon disiang harinya, nomor yang tak pernah kusimpan, yang pendek digitnya. Aku tahu itu nomor telepon rumahnya Syareefah. “Kak, Umi meninggal dunia,” lirih Syareefah mengatakan padaku siang itu. Tak ada merasa angin, tak ada suara dalam telingaku. Aku termenung. Tersentak telepon itu masih menangis.

“Adikku Syareefah, sesungguhnya Allah lah yang memiliki semua yang kamu miliki. Allah lah yang mempunyai cinta yang kamu rasakan. Yakinlah rencana Allah adalah kesempurnaan,” seperti dan seolah akulah yang tegar saat itu, ingatanku juga kembali ke masa lalu saat itu. Tapi aku juga merasa kehilangan seseorang yang berharga bagiku, ketiga kalinya.

Hanya suara lirih yang aku dengar dari telepon itu. Aku hanya diam membumi. Menunggu suara lirih itu mereda, namun tak kunjung diam. Hatiku mulai merasa teriris, aku tak tahan. Aku lepaskan Handphone itu dari telingaku, terkulai dalam genggamanku.

Begitulah dua tahun sebelumya.

Tubuhku yang terebah kembali membuka matanya.

“Ah, waktu itu ya. Ternyata dua tahun Umiku pergi meninggalkan kita,” aku memandangi loteng yang dihiasi dengan bunga-bunga berwarna putih.

“Umiku?” hanya satu kata itu dari mulut Syareefah .

“Ya, dia adalah Umiku. Aku sudah menulisnya dalam hatiku juga. Dia seperti ibu bagiku. Sama seperti yang kamu rasakan Syareefah. Aku tak bisa berbuat apa-apa waktu itu. Aku tak punya apapun untuk mengunjungimu. Aku hanya punya Allah, doaku selalu mengiringi kerinduan itu. Berharap aku bisa berziarah ke makam Umi. Sungguh Syareefah, aku mengerti rasa sakitmu. Meskipun aku laki-laki dan kau wanita yang mulia. Aku ingin menjadi obat bagimu, ingin menjadi salaf luka ketika itu mulai membuka lagi. Biar aku yang menjadi perban untuk menghentikan darah itu. Aku belum lah baik Syareefah. Kamu lebih baik dariku. Aku katakan sekali lagi, ya Syareefah, jikalau aku mempunyai kekuatan untuk mengubah masa lalu, tak akan kulakukan. Sedetikpun takkan kurubah. Aku bersyukur telah menemukanmu. Sekarang biarkan aku yang menjadi milikmu, biarkan aku saja yang menemukanmu. Tak akan kurubah sedetikpun Syareefah, aku hanya ingin menemukanmu saat ini. Inilah jalanku, jalan yang Allah siapkan untukku. Sekarang aku bersamamu,” begitu panjang tatapanku pada loteng yang indah ini. Begitu juga kata yang kusiapkan untuk Syareefah dengar dan cerna. “Aku mulai ingin menutup mata, apakah kamu masih adik yang SMA Syareefah?”

“Aku bukan adik kecilmu lagi,” mulai melembut suara Syareefah. Dia beranjak duduk keujung tempat tidur. Apakah karena Syareefah gelisah ataukah karna mulai tenang?

“Syareefah bolehkah aku mulai beristirahat saat ini. Aku benar-benar merasa canggung padamu. Adikku yang sedang meragu, janganlah simpan rasa itu. Berikan rasa itu padaku.”

“Beristirahatlah, mungkin kakak sudah mulai menua ya. Iyakah kakak dulu anak teknik?” suaranya riang, namun aku tau itu suara yang mencoba berbuat riang.

“Aku akan beristirahat, Syareefah...,” suaraku terhenti pada nama yang indah bagiku. Gelombang betaku sangat tinggi, tanda aku benar-benar mengantuk. Aku mulai melelapkan diri. 5 menit aku rasa mataku tertutup, dalam keterlayanganku kudengar suara yang bersedih.

Ini suara Syareefah. “Aku benar-benar bersyukur karena memang engkau yang datang padaku. Namamulah yang aku rindukan, sejak saat kamu meminta aku untuk mengajarkan menggunakan bahasa Arab praktis. Sejak saat kamu memanggilku Anti, sejak saat kamu mulai menggunakan berbagai cara riang padaku, aku mulai merindukan sebuah nama. Namamu. Setiap malam namamu mengangkasa dari hati dan gerak bibirku.”

Aku tersentak mendengar kata itu. Aku kembali bangun, namun tak kubuka mataku. Aku tahan diam mata ini. Aku merasa yakin, Syareefah mulai mengeluarkan air matanya, walaupun aku ingin menghentikan itu namun langkahku terhenti. Aku hanya diam dengan mata terpejam diketerbangunanku.

“Aku tau kakak pernah menulis nama seseorang pada hatimu, yang membuat luka hatimu. Yang membuat kau menjadi jahat padanya. Aku juga ingin menjadi obat bagimu, biarkan aku merasakan itu. Biarkan aku menjadi apa yang membuatmu tenang. Aku tak mengapa dengan hati yang ada luka yang kau bawa. Aku ingin menjadi apa yang membuat sembuh luka itu.”

Aku takut membuka mata, supaya Syareefah tak melihatku membuka mata. Atau nanti dia akan malu ketika sadar aku menengarnya. Aku tahu dia semakin lirih, mulai menangis. Dalam gambaranku dia sedang tertunduk dengan memulai perkataannya.

“Aku tau kakak merasa sakit ketika Umi meninggal. Lalu aku juga tau bagaimana kakak merasakan itu. Kakak menelpon Abi, menangis sejadi-jadinya, meminta maaf tak ada hentinya. Abi ceritakan itu padaku. Aku tau kakak seperti itu, tak hentinya mengirim pesan minta maaf ke nomor Umi. Lalu aku bersyukur bisa engkau temukan. Aku selalu bertanya bagaiman kakak pada Umi, aku selalu penasaran bagaimana nama yang aku rindukan. Tapi ketika kakak datang pada Abi, tanpa melihat bagaimana aku, tanpa ingin bertanya bagaimana aku, kakak langsung mengatakan kata yang akan menjadi janji seumur hidup. Aku bisa melihat bagaimana keyakinanmu padaku, Atau kamu begitu yakin karena Umi bukan? Aku tahu itu. Lalu aku sangat bersyukur kamu benar-benar menemukan aku, kakak.”

Ingin rasanya aku menjawab itu. Aku tahu dia sudah melelehkan banyak air mata. Semakin dan semakin dalam dia menangis.

“Aku tahu kamu adalah orang yang Allah pilih untukku, jikalaupun kau bisa merubah masa lalu aku masih ingin kau tak bersedih dengan luka itu. Tapi aku akan egois karena memang namamu yang aku rindukan. Terimakasih telah datang padaku. Aku akan menjadi apa yang membuatmu tenang. Kau harus membimbing aku, menjadi rasa kasih sayang seperti Umi, menjadi rasa perhatian seperti Abi. Kamu tahu aku masih sangat muda dengan umurku. Kamu tahu aku tak mempedulikan kuliahku lagi untukmu. Aku dulu takut hatiku menuliskan nama seseorang atas egoisku, sedangkan kamu terus datang dengan seperti yang aku inginkan. Tak ada yang seperti itu padaku dulu. Sekarang hatiku sudah tertulis rapi namamu,” terdiam Syareefah dengan isak pelan tangisnya. Dia menahan itu, dan sesak itu.

“Muhammad Ali aku ingin memanggilmu Hubby. Izinkan aku untuk itu. Hubby inni uhibbuka fillah.”

Aku membuka mataku, aku tak tahan lagi mendengar tangisnya yang dalam dan terisak-isak. “Panggillah aku dengan panggilan itu, lalu aku akan memanggilmu Aisy. Inni uhibbuki fillah,” aku lalu menarik lengan Syareefah, dan meletakkan pipinya di bahuku yang miring. Aku coba terima rasa yang ada padanya. Membasahi seluruh pipiku. Dia terus mengalirkan air asin itu dari matanya. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya terima itu. “Jangan malu, maaf jika kau malu karenaku. Aku ada disini untuk ini.”

Hubby aku juga tak lebih baik darimu. Kau tak perlu merendahkan diri. Aku ingin belajar denganmu. Aku ingin menjadi baik denganmu.”

Sedalam itu Syareefah katakan padaku. Aku akhirnya mengerti kenapa dia setegas dan setegar itu dulu. Aku tahu dimanana aku salah padanya dulu. Aku sadar rasa marahnya karena bercandanya aku. Kenapa aku dulu begitu tak mengerti ini. Tapi bukankah sempurna Allah ciptakan sebuah jalan dan alur?

Begitulah sebuah takdir bercerita. Tak ada sedikit cacatpun dalam hal itu.


By: Helearn

Tidak ada komentar:

Posting Komentar