Part 3: Rabu
Airin
Pagi yang cerah
hari ini. Tak banyak bising di kota Airin tinggal, tenang pagi ini namun tak
seperti pedesaan impian Airin. Gerimis terus datang dan tak mau mengalah pada
matahari pagi. Jika dilihat dari dalam ruangan tanpa cahaya maka pagi ini
seperti malam hari. Dari luar pintu rumah yang ditinggali, Airin tampak
mengembangkan payung. Diam sejenak sebelum berjalan, Airin menjulurkan
tangannya keluar payung. “Ah, dinginnya. Beda, dinginnya double,” Ucap Airin
dan lalu tertawa ringan mengawali paginya.
Jalanan beraspal
basah menandakan hujan ini terus menerus, yang biasanya di kota berdebu ini
selalu ditemui panas dan aspal yang membara terbakar sinarnya mentari. Tapi
kali ini lembab. Percikan air datang terus menerus lepas dari sepatu Airin.
Setiap langkahnya mendatangkan percikan air, membasahi ujung sepatu kecilnya.
Karena itu dari kain dan bewarna abu-abu maka jelas terlihat basah dimata
Airin. “Padahal sudah berjalan sehati-hati mungkin, tapi masih aja basah,”
Sembari melihat sepatunya dan terus berjalan perlahan dan hati-hati seperti
yang dikatakannya.
Semakin jauh
jalan yang Airin tempuh semakin cepat langkah kakinya, mulai tak berhati-hati
jalannya. Percikan air kian semarak membasahi sepatunya, menyambar kain halus
yang menutupi seluruh tubuhnya. Dekat dengan halte bus Airin berdiri dan diam.
Memandang ke arah jam 11 dan lalu terpaku dalam pandangannya. Pada bagian jalan
yang lain dilihatnya seorang nenek yang menutupi anak kecil dengan kerudungnya,
hingga Airin bisa melihat jelas betapa bungkuk nenek itu. Tapi tetap saja nenek
itu tinggi walaupun sudah bungkuk. Entah itu cucunya atau bukan, kira-kira
berumur 7-10 tahun anak kecil itu. Airin lekas meyebrang jalan. Melihat
keramaian lalu lintas tak seperti pagi biasa, Airin dapat menyebrang dengan
cepat.
“Nek hujan,”
Airin lalu memayungi nenek yang menutupi anak kecil itu dengan kerudungnya.
Tak ada tanggapan
dari nenek, anak kecil itupun terus berjalan seirama dengan nenek tersebut.
Airin juga ikut menyesuaikan iramanya dan memayungi nenek yang ada didepannya.
Hujan semakin deras, setelan karamel Airin semakin jelas ditetesi air hujan dan
warnanyapun menggelap. Tak peduli dengan hal itu Airin tetap mengikuti kemana
nenek itu pergi.
“Nek, mau
kemana?” Tanya Airin kedua kalinya, namun masih sama. Airin melakukannya lagi
dengan suara yang lebih keras. Anak kecil itu pun merespon. Dia berhenti dan
menggenggam kerudung yang menutupi kepalanya. Nenek itu pun berhenti.
“Nek, hujan
semakin deras. Nenek mau kemana?” Tanya Airin. Namun tetap nenek itu hanya
memandangi Airin yang sudah mulai basah kepala dan bahunya yang kecil.
“Nenek dengar
saya? Jangan takut nek saya Airin.”
Tiba-tiba anak
kecil itu menulis dan melihatkan kepada Airi. “Aku tuli kak, aku juga tak bisa
bicara. Itu adalah nenek yang menampungku. Nenek sudah tak bisa mendengar lagi.
Nenek juga tidak bisa melihat dengan jelas,” Tulis anak kecil itu dikertas
besar seperti buku gambar.
Airin terlihat
kaget. Lalu Airin menggerak-gerakkan tangannya sambil bersuara dan mengeja. Ya,
dia menggunakan bahasa isyarat. Dahulu Airin pernah belajar bahasa isyarat dan
dia mengerti sedikit tentang itu. “Ka-li-an ma-u ke-ma-na?” Eja Airin sambil
menggunakan bahasa isyarat.
Anak kecil itu
mengerti apa yang disampaikan Airin dan membalasnya juga dengan bahasa isyarat.
Yang mengisyaratkan bahwasanya mereka mau ke sekolah dan nenek mengantarkannya
ke sekolah. Setelah itu Airin mengatakan dia akan memayungi mereka hingga ke
sekolah, namun anak kecil itu menolak. Dia mengisyaratkan kalau sekolahnya
sudah dekat dan didepan gang itu disanalah sekolahnya katanya pada Airin. Airin
lalu mengangguk-angguk dan membuat bahasa OK pada bahasa isyarat. Anak kecil
itu bicara pada neneknya dengan bahasa isyarat dan tiba-tiba, “Terimakasih nak,
selain cantik kamu juga baik,” Ucap sang nenek pada Airin. Mungkin anak kecil
itu mengatakan apa yang Airin lakukan pada mereka dan niatnya juga mungkin.
Airin lalu
meninggalkan nenek dan cucunya itu yang telah sampai di gang depan tempat
sekolahnya anak kecil tersebut. Melambaikan tangan Airin pada anak itu, tapi
sayang mungkin dia tak melihatnya karena dia dalam lindungan kerudung neneknya.
Di halte seberang jalan dan itu adalah halte yang salah, Airin duduk mengusap
bahunya yang basah. Hujan semakin deras, rentetan air hujan tak mau mengalah
ingin sampai ke bumi. Airin lalu menyebangi jalan dan pergi ke halte yang
seharusnya dimana dia menunggu bus. Dia berdiri sangat dekat dengan tepian
jalan, sedang disana uraian embun pecahan hujan sangat ramai dan membasahi.
Dijulurkan tangannya kedepan, “Aku rasa hari ini, hari rabu ini istimewa.
Siap-siaplah aku akan menulis hari ini di buku diary dengan judul Rabu Airin.”
Bersambung...
Karya: M. Nazwar
Ali S

Tidak ada komentar:
Posting Komentar