Dex Story

“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis” - Imam Al-Ghazali -

Friendsternya Ade Sanusi

Cerbung Airin, Part 3: Rabu Airin


Part 3: Rabu Airin

Pagi yang cerah hari ini. Tak banyak bising di kota Airin tinggal, tenang pagi ini namun tak seperti pedesaan impian Airin. Gerimis terus datang dan tak mau mengalah pada matahari pagi. Jika dilihat dari dalam ruangan tanpa cahaya maka pagi ini seperti malam hari. Dari luar pintu rumah yang ditinggali, Airin tampak mengembangkan payung. Diam sejenak sebelum berjalan, Airin menjulurkan tangannya keluar payung. “Ah, dinginnya. Beda, dinginnya double,” Ucap Airin dan lalu tertawa ringan mengawali paginya.

Jalanan beraspal basah menandakan hujan ini terus menerus, yang biasanya di kota berdebu ini selalu ditemui panas dan aspal yang membara terbakar sinarnya mentari. Tapi kali ini lembab. Percikan air datang terus menerus lepas dari sepatu Airin. Setiap langkahnya mendatangkan percikan air, membasahi ujung sepatu kecilnya. Karena itu dari kain dan bewarna abu-abu maka jelas terlihat basah dimata Airin. “Padahal sudah berjalan sehati-hati mungkin, tapi masih aja basah,” Sembari melihat sepatunya dan terus berjalan perlahan dan hati-hati seperti yang dikatakannya.

Semakin jauh jalan yang Airin tempuh semakin cepat langkah kakinya, mulai tak berhati-hati jalannya. Percikan air kian semarak membasahi sepatunya, menyambar kain halus yang menutupi seluruh tubuhnya. Dekat dengan halte bus Airin berdiri dan diam. Memandang ke arah jam 11 dan lalu terpaku dalam pandangannya. Pada bagian jalan yang lain dilihatnya seorang nenek yang menutupi anak kecil dengan kerudungnya, hingga Airin bisa melihat jelas betapa bungkuk nenek itu. Tapi tetap saja nenek itu tinggi walaupun sudah bungkuk. Entah itu cucunya atau bukan, kira-kira berumur 7-10 tahun anak kecil itu. Airin lekas meyebrang jalan. Melihat keramaian lalu lintas tak seperti pagi biasa, Airin dapat menyebrang dengan cepat.

“Nek hujan,” Airin lalu memayungi nenek yang menutupi anak kecil itu dengan kerudungnya.
Tak ada tanggapan dari nenek, anak kecil itupun terus berjalan seirama dengan nenek tersebut. Airin juga ikut menyesuaikan iramanya dan memayungi nenek yang ada didepannya. Hujan semakin deras, setelan karamel Airin semakin jelas ditetesi air hujan dan warnanyapun menggelap. Tak peduli dengan hal itu Airin tetap mengikuti kemana nenek itu pergi.

“Nek, mau kemana?” Tanya Airin kedua kalinya, namun masih sama. Airin melakukannya lagi dengan suara yang lebih keras. Anak kecil itu pun merespon. Dia berhenti dan menggenggam kerudung yang menutupi kepalanya. Nenek itu pun berhenti.

“Nek, hujan semakin deras. Nenek mau kemana?” Tanya Airin. Namun tetap nenek itu hanya memandangi Airin yang sudah mulai basah kepala dan bahunya yang kecil.

“Nenek dengar saya? Jangan takut nek saya Airin.”

Tiba-tiba anak kecil itu menulis dan melihatkan kepada Airi. “Aku tuli kak, aku juga tak bisa bicara. Itu adalah nenek yang menampungku. Nenek sudah tak bisa mendengar lagi. Nenek juga tidak bisa melihat dengan jelas,” Tulis anak kecil itu dikertas besar seperti buku gambar.

Airin terlihat kaget. Lalu Airin menggerak-gerakkan tangannya sambil bersuara dan mengeja. Ya, dia menggunakan bahasa isyarat. Dahulu Airin pernah belajar bahasa isyarat dan dia mengerti sedikit tentang itu. “Ka-li-an ma-u ke-ma-na?” Eja Airin sambil menggunakan bahasa isyarat.

Anak kecil itu mengerti apa yang disampaikan Airin dan membalasnya juga dengan bahasa isyarat. Yang mengisyaratkan bahwasanya mereka mau ke sekolah dan nenek mengantarkannya ke sekolah. Setelah itu Airin mengatakan dia akan memayungi mereka hingga ke sekolah, namun anak kecil itu menolak. Dia mengisyaratkan kalau sekolahnya sudah dekat dan didepan gang itu disanalah sekolahnya katanya pada Airin. Airin lalu mengangguk-angguk dan membuat bahasa OK pada bahasa isyarat. Anak kecil itu bicara pada neneknya dengan bahasa isyarat dan tiba-tiba, “Terimakasih nak, selain cantik kamu juga baik,” Ucap sang nenek pada Airin. Mungkin anak kecil itu mengatakan apa yang Airin lakukan pada mereka dan niatnya juga mungkin.

Airin lalu meninggalkan nenek dan cucunya itu yang telah sampai di gang depan tempat sekolahnya anak kecil tersebut. Melambaikan tangan Airin pada anak itu, tapi sayang mungkin dia tak melihatnya karena dia dalam lindungan kerudung neneknya. Di halte seberang jalan dan itu adalah halte yang salah, Airin duduk mengusap bahunya yang basah. Hujan semakin deras, rentetan air hujan tak mau mengalah ingin sampai ke bumi. Airin lalu menyebangi jalan dan pergi ke halte yang seharusnya dimana dia menunggu bus. Dia berdiri sangat dekat dengan tepian jalan, sedang disana uraian embun pecahan hujan sangat ramai dan membasahi. Dijulurkan tangannya kedepan, “Aku rasa hari ini, hari rabu ini istimewa. Siap-siaplah aku akan menulis hari ini di buku diary dengan judul Rabu Airin.”

Bersambung...
Karya: M. Nazwar Ali S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar