Part 2: Permulaan
Kini
Natan telah sendiri. Tak akan ada lagi yang akan menyapanya setiap kali bangun
tidur dan menyiapkan sarapan.
“Aku
sudah terbiasa dengan kesendirian. Sudah terbiasa dengan sesaknya malam. Tak
akan canggung lagi saat aku menghadapi kegelapan malam itu. Ya, semuanya memang
sudah terbiasa dengan diri ini.”
Rintihannya
terdengar fana setiap kali Natan menyudut di sudut kamar.
Semuanya
memang sudah berubah. Karena ini perubahan terbesar yang pernah menimpa Natan
sepanjang hidupnya. Setelah kepergian Ayahnya, kini disusul oleh kepergian
Ibunya juga. Dunia yang selama ini dia kutuk, kini sudah menjadi lautan
kemunafikan dalam benak Natan. Sungguh tak ada kebaikan yang terkandung di
dalamnya. Hanya dipenuhi oleh butiran-butiran kenistaan disetiap jengkal bumi
ini.
Sehari
setelah kepergian Ibunya, Natan tidak makan apapun seharian penuh. Bukan karena
ia tidak bisa memasak, tapi sesuatu yang lebih mendalam baginya. Hari-hari
berikutnya semakin memburuk. Dia hanya menyendiri di sudut kamar selama dua
hari tanpa melakukan apapun. Terlebih, tidak ada seorangpun yang memperhatikan
Natan sedikitpun.
Meskipun
orang bilang bahwa Minangkabau tanah yang penuh dengan rasa berbagi, tapi tidak
bagi kehidupan Natan. Anak yang selama ini tidak pernah bersosialisasi dengan
lingkungannya, membuat semua orang disekelilingnya juga tidak memperhatikan
perubahan yang terjadi padanya. Apalagi tempat tinggal Natan dan Ibunya yang
jauh dari keramaian dan tidak terlalu banyak orang yang lewat di depan rumah
mereka.
“Untuk
apa Kau memeberikan kilatan masa itu. Apa Kau hanya mempermainkanku dengan
kematian?” dengusannya di malam yang menyemburkan hawa dingin. “Aku takut!
Sungguh , aku benar-benar takut. Setiap kali melihat wajah-wajah mereka yang
akan mati dan aku yang tidak bisa melakukan apapun untuk mereka. Dan, dan, dan…
ibu yang tidak yang bisa kuselamatkan dari kematian, padahal aku melihatnya.
Ya, aku melihatnya.”
Air
matanya mengalir deras dimalam itu. Tanpa seorangpun yang peduli dan
mendengarkan keluh dan kesahnya. Tangannya memeluk kedua lutut dan membenamkan
kepala diantara keduanya. Hanya itu yang bisa membuat Natan lebih baik.
Mengeluarkan semua yang ia simpan selama ini dengan air mata hangat yang keluar
dari kedua bola matanya.
Dihari
ke tujuh kematian ibunya, Natan masih menyudut di sudut kamarnya. Hanya
sesekali ia keluar kamar saat perutnya keroncongan dan minta untuk diisi.
Karena tak akan ada Ibu yang mempersiapkan segalanya bagi Natan.
Tapi,
semuanya sudah terlambat. Ibu yang selama ini bersamanya tak akan kembali.
Kembali untuk menyaksikan perubahan besar yang terjadi pada diri anaknya.
Kecuali seseorang yang sejak tujuh hari ini memperhatikan Natan.
Seorang
pria hitam legam dengan rambut botaknya. Perawakannya tampak kumuh dengan
bertelanjang dada. Ditambah dengan tulang rusuk yang tampak dari kejauhan. Pria
itu bertengger di atas pohon akasia yang terletak di depan jendela kamar Natan.
Sudah
sejak tujuh hari ini ia memperhatikan Natan tanpa bergerak dari posisinya.
Natan yang sudah beberapa hari ini mengurung diri di dalam kamar tak pernah
memperhatikan ke arah luar. Apalagi memperhatikan pohon akasia yang selama ini
tak menarik perhatiannya.
Tiba-tiba
sebuah kilatan masa muncul di kepala Natan.
Kulihat,
Sebuah bola api menabrak jendela kamarku dan menghancurkan kamar tidur. Aku
yang menyudut disana tampak hitam gosong terkena bola api tersebut. Kaku tak
bergerak. Mati? Dibalik bola api tersebut tampak seorang pria botak hitam legam
yang mengeluarakan api dari tangannya.
Tubuh
Natan seketika menjadi lemas. Keringat bercucuran dan membasahi keningnya dan
membuat rasa lengket disetiap jahitan kaos yang tengah ia kenakan.
Kini
kedua tangan Natan menutupi wajahnya sambil menyandarkan tubuhnya yang lemah ke
dinding. Kembali Natan mengatur nafas untuk menguatkan kembali tubuh dan
perasaannya. Takut akan apa yang akan terjadi pada dirinya setelah semua
penderitaan ini terjadi. Sekaligus membenci kekuatan yang ada pada dirinya yang
memberikan Natan sedikit gambaran masa depan. Dan kilatan masa itu juga yang
membuatnya menyaksikan satu-satunya wanita pengasih dalam hidup Natan, pergi.
“Astaga,
apa yang akan terjadi padaku?”
Natan
bertanya pada dirinya sendiri yang tentunya tidak bisa ia jawab. Jawaban yang
tidak bisa ia temukan hanya dengan duduk menerawang disudut kamar.
Bergegas
Natan menyusuri seisi rumah untuk memastikan tidak ada orang yang berada disana
selain dirinya. Menyusuri setiap sudut rumah dengan tubuh yang masih letih dan
lemas meminta untuk diistirahatkan sejanak. Tapi perasaan gelisah setalah melihat
kiltan masa itu membuat langkahnya terlihat pasti untuk mencari sesuatu yang
mengganggu pikirannya.
“Dimana,
dimana, dimana?” teriak Natan didalam kebingungan. “Sebenarnya apa yang sedang
terjadi. Apakah aku akan baik-baik saja?”
Dia
tahu bahwa semua pertanyaan itu tak akan bisa dia jawab dalam keadaannya saat
ini.
Tiba-tiba
seisi rumah gelap gulita. Lampu-lampu yang menerangi dinding kosong rumah itu
kini padam. Menambah kesan menyesakkan dalam hati Natan. Ternyata listrik memang mati diseluruh ruangan
Natan
bergegas kembali ke kamar untuk menemukan cahaya. Telapak kakinya sudah terasa
panas karena sejak tadi dia sudah berlarian menyusuri seluruh ruangan di rumah
itu. Terlihat jendela kamar memantulkan sinar bulan dan membuat pantulan cahaya
persegi di lantai kamar. Pantulan cahaya itu terlihat putih samar-samar dengan
sedikit bayang-bayang pohon akasia yang membayanginya. Terlihat seperti siluet
yang dilukis oleh empunya. Begitu indah membuat siapapun yang mendangnya akan
terhanyut dan tergugah.
Semua
keindahan itu seolah-olah terganggu oleh cahaya merah jingga menutupi cahaya
putih suci dari pantulan bulan itu. Bola api. Ya, bola api yang sangat besar
sehingga membuat Natan terkejut bukan kepalang melihat sesuatu yang asing
dimatanya. Entah dari mana datangnya bola api sebesar itu. Kalau diukur-ukur
sebesar truk tangki yang dibuat bulat. Begitu besar dan menyala-nyala.
Menjilat-jilat setiap benda yang meneyentuhnya.
“Bagaimana bisa semua ini terjadi?
Apakah semuanya karena kilatan masa yang kulihat?” gumamnya dalam hati.
Natan
tak bisa berkata apa-apa selain matanya yang terbelalak dan mulut yang
ternganga dengan lebarnya. Kakinya bergetar dan keringat kembali membasahi
tubuhnya dan membuat perasaan gerah di bagian tengkuk dan lututnya.
“Astaga!” teriak Natan didalam
hati. “Apakah aku akan mati? Meninggalkan
dunia yang tak pernah menginginkan diri ini. Meninggalkan semua hal yang tidak
pernah kugenggam apalagi merangkulnya. Kurasa ini juga tidak apa-apa. Aku akan
bertemu dengan Ibu dan kesendirian ini tidak akan mengungkungku lagi. Mungkin
Ayah sekarang juga bersama Ibu. Tunggu aku Ibu!”
Natan
memejamkan matanya dan siap menerima semua yang akan terjadi. Panasnya bola api
itu sudah mulai terasa panas di kulitnya. Setiap pori-porinya mengeluarkan
keringat dan tak henti-hentinya merembes keluar. Berbagai pikiran terlintas
dibenaknya dan kenangan masa lalu kembali hadir menyusup kedalam benak kepala.
Tidak
ada penyesalan sedikitpun tergores dalam perawakannya. Wajahnya yang tadi
tampak gusar dan khawatir tentang semua hal yang akan terjadi, kini tampak
jerniih menampakkan kepasrahan.
“Inilah hidupku. Tanpa ada sesuatu yang
dapat kulakukan dan semua itu terasa seperti ilusi yang sedikit mengisi
kehidupanku ini. Semua ini sudah cukup bagiku.”
Bola
api itu menghantam kamar tidur Natan dan merobohkan seluruh bangunan rumah itu.
Kini rumah itu sudah hancur dan menunggu semua kenangan usang itu sirna tak
bersisa. Bersama dengan penghuni rumah kecil itu dan sedikit kebahagian yang
terpancar dikala waktu yang singkat itu juga.
Api
sudah membakar hangus setiap jenggal kekayuan yang membangun setiap sendi rumah
itu. Kamar tidur tempat Natan melarikan diri dari dunia ini. Dapur tempat
ibunya memasak dan sesekali mencoba masakan wanita tua itu dengan segenap
hatinya yang lembut. Selembut suaranya yang membangunkan Natan setiap paginya
melalui pintu kamar yang dipahat dengan ukiran Kaluak Paku khas Minangkabau. Semua kini sudah tinggal puing-puing
tak bernilai di mata. Tapi meninggalkan sedikit kenangan yang berharga bagi
penghuninya.
Natan
dan keluarganya kini sudah meninggalkan nama di sebuah dunia yang disebut Bumi.
Tapi ini hanyalah sebuah awal.
Bersambung..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar