Dex Story

“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis” - Imam Al-Ghazali -

Friendsternya Ade Sanusi

Cerbung You Cannot See What I Can See, Part 2: Permulaan




cerbung you cannot see what i can see


Part 2: Permulaan

Kini Natan telah sendiri. Tak akan ada lagi yang akan menyapanya setiap kali bangun tidur dan menyiapkan sarapan.
“Aku sudah terbiasa dengan kesendirian. Sudah terbiasa dengan sesaknya malam. Tak akan canggung lagi saat aku menghadapi kegelapan malam itu. Ya, semuanya memang sudah terbiasa dengan diri ini.”
Rintihannya terdengar fana setiap kali Natan menyudut di sudut kamar.
Semuanya memang sudah berubah. Karena ini perubahan terbesar yang pernah menimpa Natan sepanjang hidupnya. Setelah kepergian Ayahnya, kini disusul oleh kepergian Ibunya juga. Dunia yang selama ini dia kutuk, kini sudah menjadi lautan kemunafikan dalam benak Natan. Sungguh tak ada kebaikan yang terkandung di dalamnya. Hanya dipenuhi oleh butiran-butiran kenistaan disetiap jengkal bumi ini.
Sehari setelah kepergian Ibunya, Natan tidak makan apapun seharian penuh. Bukan karena ia tidak bisa memasak, tapi sesuatu yang lebih mendalam baginya. Hari-hari berikutnya semakin memburuk. Dia hanya menyendiri di sudut kamar selama dua hari tanpa melakukan apapun. Terlebih, tidak ada seorangpun yang memperhatikan Natan sedikitpun.
Meskipun orang bilang bahwa Minangkabau tanah yang penuh dengan rasa berbagi, tapi tidak bagi kehidupan Natan. Anak yang selama ini tidak pernah bersosialisasi dengan lingkungannya, membuat semua orang disekelilingnya juga tidak memperhatikan perubahan yang terjadi padanya. Apalagi tempat tinggal Natan dan Ibunya yang jauh dari keramaian dan tidak terlalu banyak orang yang lewat di depan rumah mereka.
“Untuk apa Kau memeberikan kilatan masa itu. Apa Kau hanya mempermainkanku dengan kematian?” dengusannya di malam yang menyemburkan hawa dingin. “Aku takut! Sungguh , aku benar-benar takut. Setiap kali melihat wajah-wajah mereka yang akan mati dan aku yang tidak bisa melakukan apapun untuk mereka. Dan, dan, dan… ibu yang tidak yang bisa kuselamatkan dari kematian, padahal aku melihatnya. Ya, aku melihatnya.”
Air matanya mengalir deras dimalam itu. Tanpa seorangpun yang peduli dan mendengarkan keluh dan kesahnya. Tangannya memeluk kedua lutut dan membenamkan kepala diantara keduanya. Hanya itu yang bisa membuat Natan lebih baik. Mengeluarkan semua yang ia simpan selama ini dengan air mata hangat yang keluar dari kedua bola matanya.
Dihari ke tujuh kematian ibunya, Natan masih menyudut di sudut kamarnya. Hanya sesekali ia keluar kamar saat perutnya keroncongan dan minta untuk diisi. Karena tak akan ada Ibu yang mempersiapkan segalanya bagi Natan.
Tapi, semuanya sudah terlambat. Ibu yang selama ini bersamanya tak akan kembali. Kembali untuk menyaksikan perubahan besar yang terjadi pada diri anaknya. Kecuali seseorang yang sejak tujuh hari ini memperhatikan Natan.
Seorang pria hitam legam dengan rambut botaknya. Perawakannya tampak kumuh dengan bertelanjang dada. Ditambah dengan tulang rusuk yang tampak dari kejauhan. Pria itu bertengger di atas pohon akasia yang terletak di depan jendela kamar Natan.
Sudah sejak tujuh hari ini ia memperhatikan Natan tanpa bergerak dari posisinya. Natan yang sudah beberapa hari ini mengurung diri di dalam kamar tak pernah memperhatikan ke arah luar. Apalagi memperhatikan pohon akasia yang selama ini tak menarik perhatiannya.
Tiba-tiba sebuah kilatan masa muncul di kepala Natan.
Kulihat, Sebuah bola api menabrak jendela kamarku dan menghancurkan kamar tidur. Aku yang menyudut disana tampak hitam gosong terkena bola api tersebut. Kaku tak bergerak. Mati? Dibalik bola api tersebut tampak seorang pria botak hitam legam yang mengeluarakan api dari tangannya.
Tubuh Natan seketika menjadi lemas. Keringat bercucuran dan membasahi keningnya dan membuat rasa lengket disetiap jahitan kaos yang tengah ia kenakan.
Kini kedua tangan Natan menutupi wajahnya sambil menyandarkan tubuhnya yang lemah ke dinding. Kembali Natan mengatur nafas untuk menguatkan kembali tubuh dan perasaannya. Takut akan apa yang akan terjadi pada dirinya setelah semua penderitaan ini terjadi. Sekaligus membenci kekuatan yang ada pada dirinya yang memberikan Natan sedikit gambaran masa depan. Dan kilatan masa itu juga yang membuatnya menyaksikan satu-satunya wanita pengasih dalam hidup Natan, pergi.
“Astaga, apa yang akan terjadi padaku?”
Natan bertanya pada dirinya sendiri yang tentunya tidak bisa ia jawab. Jawaban yang tidak bisa ia temukan hanya dengan duduk menerawang disudut kamar.
Bergegas Natan menyusuri seisi rumah untuk memastikan tidak ada orang yang berada disana selain dirinya. Menyusuri setiap sudut rumah dengan tubuh yang masih letih dan lemas meminta untuk diistirahatkan sejanak. Tapi perasaan gelisah setalah melihat kiltan masa itu membuat langkahnya terlihat pasti untuk mencari sesuatu yang mengganggu pikirannya.
“Dimana, dimana, dimana?” teriak Natan didalam kebingungan. “Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Apakah aku akan baik-baik saja?”
Dia tahu bahwa semua pertanyaan itu tak akan bisa dia jawab dalam keadaannya saat ini.
Tiba-tiba seisi rumah gelap gulita. Lampu-lampu yang menerangi dinding kosong rumah itu kini padam. Menambah kesan menyesakkan dalam hati Natan. Ternyata  listrik memang mati diseluruh ruangan
Natan bergegas kembali ke kamar untuk menemukan cahaya. Telapak kakinya sudah terasa panas karena sejak tadi dia sudah berlarian menyusuri seluruh ruangan di rumah itu. Terlihat jendela kamar memantulkan sinar bulan dan membuat pantulan cahaya persegi di lantai kamar. Pantulan cahaya itu terlihat putih samar-samar dengan sedikit bayang-bayang pohon akasia yang membayanginya. Terlihat seperti siluet yang dilukis oleh empunya. Begitu indah membuat siapapun yang mendangnya akan terhanyut dan tergugah.
Semua keindahan itu seolah-olah terganggu oleh cahaya merah jingga menutupi cahaya putih suci dari pantulan bulan itu. Bola api. Ya, bola api yang sangat besar sehingga membuat Natan terkejut bukan kepalang melihat sesuatu yang asing dimatanya. Entah dari mana datangnya bola api sebesar itu. Kalau diukur-ukur sebesar truk tangki yang dibuat bulat. Begitu besar dan menyala-nyala. Menjilat-jilat setiap benda yang meneyentuhnya.
“Bagaimana bisa semua ini terjadi? Apakah semuanya karena kilatan masa yang kulihat?” gumamnya dalam hati.
Natan tak bisa berkata apa-apa selain matanya yang terbelalak dan mulut yang ternganga dengan lebarnya. Kakinya bergetar dan keringat kembali membasahi tubuhnya dan membuat perasaan gerah di bagian tengkuk dan lututnya.
“Astaga!” teriak Natan didalam hati. “Apakah aku akan mati? Meninggalkan dunia yang tak pernah menginginkan diri ini. Meninggalkan semua hal yang tidak pernah kugenggam apalagi merangkulnya. Kurasa ini juga tidak apa-apa. Aku akan bertemu dengan Ibu dan kesendirian ini tidak akan mengungkungku lagi. Mungkin Ayah sekarang juga bersama Ibu. Tunggu aku Ibu!”
Natan memejamkan matanya dan siap menerima semua yang akan terjadi. Panasnya bola api itu sudah mulai terasa panas di kulitnya. Setiap pori-porinya mengeluarkan keringat dan tak henti-hentinya merembes keluar. Berbagai pikiran terlintas dibenaknya dan kenangan masa lalu kembali hadir menyusup kedalam benak kepala.
Tidak ada penyesalan sedikitpun tergores dalam perawakannya. Wajahnya yang tadi tampak gusar dan khawatir tentang semua hal yang akan terjadi, kini tampak jerniih menampakkan kepasrahan.
“Inilah hidupku. Tanpa ada sesuatu yang dapat kulakukan dan semua itu terasa seperti ilusi yang sedikit mengisi kehidupanku ini. Semua ini sudah cukup bagiku.”
Bola api itu menghantam kamar tidur Natan dan merobohkan seluruh bangunan rumah itu. Kini rumah itu sudah hancur dan menunggu semua kenangan usang itu sirna tak bersisa. Bersama dengan penghuni rumah kecil itu dan sedikit kebahagian yang terpancar dikala waktu yang singkat itu juga.
Api sudah membakar hangus setiap jenggal kekayuan yang membangun setiap sendi rumah itu. Kamar tidur tempat Natan melarikan diri dari dunia ini. Dapur tempat ibunya memasak dan sesekali mencoba masakan wanita tua itu dengan segenap hatinya yang lembut. Selembut suaranya yang membangunkan Natan setiap paginya melalui pintu kamar yang dipahat dengan ukiran Kaluak Paku khas Minangkabau. Semua kini sudah tinggal puing-puing tak bernilai di mata. Tapi meninggalkan sedikit kenangan yang berharga bagi penghuninya.
Natan dan keluarganya kini sudah meninggalkan nama di sebuah dunia yang disebut Bumi. Tapi ini hanyalah sebuah awal.

Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar