Part 1: Setelah Lembaran Yang Hilang
Suatu hari Airin
berkata pada catatan hariannya, “Aku mengetahui sedikit tentangmu, sangat
sedikit. Aku sudah menganggap diriku paham. Sekarang aku seperti melukai diri
sendiri. Kamu tak salah Betas, aku menerimamu. Coba melawan hal yang melawan
apa yang aku inginkan. Aku menerimamu. Tapi sekuat dan sebanyak aku memberi
perkataan tentang keinginanku pada hati ini tetap saja ada setitik node kecil,
sangat kecil. Entah mikro atau nano ukurannya namun itu sangat kecil untuk
tetap menolak dan merasa kecewa. Iya padamu Betas.”
Saat itu hari
dimana Airin mulai mengenal Betas. Dia selalu menyampaikan perasaannya pada
buku catatannya. Tak setiap hari hanya
sesekali saja. Termasuk bagaimana harinya dengan Betas.
Dalam catatannya.
Kamu terlalu
dalam, terlalu dalam untuk aku selami.
Hingga aku merasa
memang benar-benar sangat dalam.
Kamu terlalu
luas, lebih luas dari galaksi yang memuat bintang milyaran bintang didalamnya.
Hingga aku
benar-benar tak bisa mengikutinya.
Seperti itulah.
Kamu berombak bersama pasir-pasir yang ada di gurun.
Sedang aku bukan.
Aku pernah mencoba menyamakan namun tetap saja aku mengingkarinya dan akhirnya
aku mengakui perbedaan. Kamu tak salah, bagiku tetap sangat berarti.
“Menulislah agar
kau tak benar-benar mati.”
Begitu kalimat
terakhir di halaman terakhir catatan Airin. Airin lalu duduk di sudut jendela
kamarnya. Menikmati angin sayu yang meyapu membawa debu kewajahnya. “Lebih
menyenangkan seperti ini, namun Betas tetap disana.”
Bersambung...
Karya: M. Nazwar Ali S
Karya: M. Nazwar Ali S

Tidak ada komentar:
Posting Komentar